Minggu, 24 Maret 2013

Janji Ini

Aku menatap matanya lekat-lekat. Tak banyak yang aku dapat. Hanya percikan-percikan harapan yang sekelebat. Melompat. Kadang harapan-harapan itu berkumpul. Menggunung dan saling berdesakan. Kemudian, BOOM! Meledak. Lalu hening.
Senyumnya masih laksana pelangi yang terbalik. Melengkung sempurna dan indah. Berwarna-warni namun mata yang memandang takan tersakiti. Pun aku yang selalu luluh.
Suaranya adalah gerimis yang bisa melarutkan keringat penat. Gelisah terdengar renyah. Kalimat terus meluncur berbagi tegur. Bahagia berbagi tawa.
Ia akan menari bersama hujan. Sebuah tarian kejujuran tanpa rekayasa. Karena alam adalah komposer terbaik dalam simphoni yang mengiringi gemulai langkahnya. Aku terpana. Aku terseret dalam keriaannya. Terpenjara rasa yang disebut entah. Aku melayang bersama cerita riang. Segala lelahku membuncah lalu menguap. Senyap.
Kurengkuh tubuhnya. Ia menggeliat manja. Dari bibirnya terus berhamburan cerita-cerita yang menciumi wajahku umpama kekasih yang lama tak bertemu. Ya, kami akan selalu merindu. Selalu.
Dia adalah aku. Yang  tersenyum bahagia dibalik bingkai foto. Terhalang kaca kemunafikan. Tapi hati kami selalu saling menggenggam, lebih erat dari pelukan.
Anakku.


cilacap, 25 maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar