Yang paling enak dan gampang dilakukan saat kita menemui sebuah masalah adalah dengan melempar kesalahan pada orang lain. Kita sibuk mengorek-orek. Sibuk mencari alibi. Tak sedikitpun terbersit untuk berkaca dan sedikit introspeksi.
Kenapa? Karena kita takut.
Kita takut menerima kenyataan bahwa itu semua karena kesalahan kita.
Kita takut jika kita mengakui kesalahan orang lain akan menjauh dan menurunkan 'pamor' kita dimata mereka.
Takut jika ternyata orang lain lebih baik dari kita. Karena itu berarti kita tidak superior lagi.
Apa itu salah? Tidak. Itu manusiawi. Tapi bodoh.
Saat kita terlalu fokus pada kesalahan orang lain, kita sudah mengalami banyak kerugian. Kerugian yang utama adalah akhirnya kita tidak pernah belajar.
Jika kita tidak pernah merasa salah, lalu apalagi yang harus diperbaiki dari diri kita?
Ibarat orang sakit, bagaimana dokter bisa memberikan resep obat jika si pasien tidak pernah merasa sakit?
Lalu pada akhirnya kita baru menyadari saat semua sudah kronis. Parah.
'Bodoh' yang lain adalah pikiran kita akan terkuras energinya untuk berkelit. Dan bukan tidak mungkin pada akhirnya kita harus berbohong. Dan bohong itu sendiri mempunyai efek domino yang luar biasa. Karena sekali kita bohong, maka seterusnya kita akan berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
Saya respek pada orang-orang yang konsisten dengan kebohongannya. Berarti dia punya daya ingat dan imajinasi yang luar biasa untuk selalu mengingat bahwa ia pernah mengatakan sesuatu yang tidak terjadi, dan ia harus mengingatnya untuk selamanya. Karena sekali saja ia tergelincir, terbongkarlah semua kebohongannya.
Jadi bisa kebayang kan, betapa capenya jadi pembohong?
Ya, melimpahkan kesalahan pada orang lain adalah nikmat. Tapi itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kita hanya mengalihkan masalah atau menundanya untuk menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak. Ibarat yang gatel kepalanya tapi yang digaruk pantatnya.
Semua permasalahan datang satu paket. Masalah plus jalan keluarnya. Dan yang tau jalan keluarnya ya kita sendiri.
Akuilah jika itu memang kesalahan kita. Sepintas terasa berat. Karena itu berarti kita seolah meletakan harga diri di level yang paling bawah. Tapi sebenarnya, itu adalah cara yang paling mudah. Saat kita berani mengakui kesalahan, maka pikiran kita akan terbuka dan siap menerima perbaikan. Dan saat kita selalu menerima perbaikan berarti akan ada progres ke yang lebih baik. Kita telah belajar.
Tidak ada orang yang suka melakukan kesalahan. Tapi jika kita ingin melewati hidup dengan baik, maka tidak ada jaminan bagi kita untuk tidak melakukan kesalahan. Dan jika kita bisa belajar dengan tepat dari kesalahan, maka kita akan mendapatkan bahan bakar baru untuk maju kedepan.
Hidup ini hanya untuk orang-orang yang mau belajar.
Jumat, 26 Oktober 2012
Senin, 22 Oktober 2012
HIDUP ITU PENDEK
Ini adalah hidupmu. Lakukan apa yang kau cintai dan sering-seringlah melakukannya.Jika kau tidak suka sesuatu, ubahlah. Jika kau tak suka pekerjaanmu, berhentilah. Dan jika kau mencari cinta sejatimu, berhentilah; mereka akan menunggumu ketika kau mulai melakukan hal-hal yang kau cintai.
Hidup itu sederhana. Berhentilah terlalu menganalisa sesuatu, semua emosi itu indah.
Ketika kau makan, hargai setiap gigitan terakhir.
Buka pikiran, tangan dan hatimu untuk hal-hal dan orang-orang baru, kita satu dalam perbedaan-perbedaan kita.
Tanyailah orang yang kau temui apa yang menjadi keinginan mereka, dan berbagi mimpi bersama mereka.
Seringlah bepergian, tersesat akan membantumu menemukan jati diri.
Beberapa peluang hanya datang sekali, rebutlah.
Hidup adalah tentang orang yang kau temui, dan hal-hal yang kau ciptakan bersama mereka. Jadi keluarlah, mulailah berkreasi.
Hidup itu pendek. Jalani mimpimu dan bersama-sama berbagi hasrat.
Tewrkadang kita lupa tujuan hidup kita apa. Terkadang terlalu terpaku pada norma-norma. "Pamali" dan sebagainya. Lakukan apa yang menurut mereka terbaik. Ayo, kita mulai dari sekarang. Kejar mimpi-mimpi kita.
Sabtu, 20 Oktober 2012
BERSETUBUH DENGAN KATA-KATA
“Cerita fiksi itu cuma 6 kata. Selebihnya imajinasi.” — (Ernest Hemingway)
"ATAS NAMA KESETIAAN - Ia menikahi kekasihnya dengan mas kawin sepasang Sendal Jepit."
Ada banyak teman yang bertanya tentang status-status saya di fesbuk. Ada yang bertanya langsung. Tapi paling banyak ya lewat inbox. Tak sedikit juga sih yang cuek. Yah, namanya juga fesbuk.
Dan ketika kujawab, mereka justru tambah tidak mengerti. Dan terus terang, secara teori pun saya kurang bisa menjelaskan apa itu fiksimini. Saya hanya menikmati dan senang bermain-main dengan kata-kata. Sampai akhirnya saya menemukan catatan di blog teman tentang fiksimini.
Semua berawal ketika saya mulai suka mainan twitter. Dibanding fesbuk, awalnya twitter terasa lebih 'ribet' dan bikin males. Karena twitter hanya menyediakan 140 karakter untuk tempat kita memuntahkan isi kepala. Tapi selanjutnya, saya justru jadi addict. Ada kepuasan tersendiri ketika hanya dengan 140 karakter tapi kita bisa membuat orang lain sudah cukup mengerti dengan pesan kita. Ibarat ngomong, ga perlu banyak kata tapi tembus ke jantung. Jleb. That's amazing, bro.
Sampai akhirnya saya mengenal apa yang kemudian disebut dengan fiksimini. Dan itu ternyata membuat saya maikin kecanduan.
Mengamati. Ide cerita. Merangkainya dengan kalimat seminim mungkin. Kurang lebih seperti itu.
Dan akhirnya saya menemukan diktum tentang fiksimini yang ditulis oleh Agus Noer
- Menceritakan seluas mungkin dunia, dengan seminim mungkin kata
- Ibarat dalam tinju, fiksimini serupa satu pukulan yang telak dan menohok
- Kisahnya ibarat lubang kunci, yang justru membuat kita bisa “mengintip” dunia secara berbeda
- Bila novel membangun dunia. Cerpen menata kepingan dunia. Fiksimini mengganggunya
- Fiksimini yang kuat ibarat granat yang meledak dalam kepala kita
- Ia bisa berupa kisah sederhana, diceritakan dengan sederhana, tetapi selalu terasa ada yang tidak sederhana di dalamnya
- Alurnya seperti bayangan berkelebat, tetapi membuat kita terus teringat
- Serupa permata mungil yang membiaskan banyak cahaya, kita terus terpesona setiapkali membacanya.
- Seperti sebuah ciuman, fiksimini jangan terlalu sering diulang-ulang
- Bila puisi mengolah bahasa, fiksimini menyuling cerita, menyuling dunia.
- Ia tak semata membuat tawa. Karna ia adalah gema tawanya.
- Kau kira fiksimini ialah kolam kecil, tapi kau tak pernah mampu menduga kedalamanya.
- Di ujung kisahnya: kita seperti mendapati teka-teki abadi yang tak bertepi.
- Pelan-pelan kau menyadari, ia sebutir debu yang mampu meledakkan semesta.
- Lupakan semua diktum itu. Mulailah menulis fiksimini!
Ya, itulah sedikit tentang fiksimini. Mari kita bersetubuh dengan kata-kata. Dan selanjutnya nikmati sensasi orgasmenya.
"ATAS NAMA KESETIAAN - Ia menikahi kekasihnya dengan mas kawin sepasang Sendal Jepit."
Ada banyak teman yang bertanya tentang status-status saya di fesbuk. Ada yang bertanya langsung. Tapi paling banyak ya lewat inbox. Tak sedikit juga sih yang cuek. Yah, namanya juga fesbuk.
Dan ketika kujawab, mereka justru tambah tidak mengerti. Dan terus terang, secara teori pun saya kurang bisa menjelaskan apa itu fiksimini. Saya hanya menikmati dan senang bermain-main dengan kata-kata. Sampai akhirnya saya menemukan catatan di blog teman tentang fiksimini.
Semua berawal ketika saya mulai suka mainan twitter. Dibanding fesbuk, awalnya twitter terasa lebih 'ribet' dan bikin males. Karena twitter hanya menyediakan 140 karakter untuk tempat kita memuntahkan isi kepala. Tapi selanjutnya, saya justru jadi addict. Ada kepuasan tersendiri ketika hanya dengan 140 karakter tapi kita bisa membuat orang lain sudah cukup mengerti dengan pesan kita. Ibarat ngomong, ga perlu banyak kata tapi tembus ke jantung. Jleb. That's amazing, bro.
Sampai akhirnya saya mengenal apa yang kemudian disebut dengan fiksimini. Dan itu ternyata membuat saya maikin kecanduan.
Mengamati. Ide cerita. Merangkainya dengan kalimat seminim mungkin. Kurang lebih seperti itu.
Dan akhirnya saya menemukan diktum tentang fiksimini yang ditulis oleh Agus Noer
- Menceritakan seluas mungkin dunia, dengan seminim mungkin kata
- Ibarat dalam tinju, fiksimini serupa satu pukulan yang telak dan menohok
- Kisahnya ibarat lubang kunci, yang justru membuat kita bisa “mengintip” dunia secara berbeda
- Bila novel membangun dunia. Cerpen menata kepingan dunia. Fiksimini mengganggunya
- Fiksimini yang kuat ibarat granat yang meledak dalam kepala kita
- Ia bisa berupa kisah sederhana, diceritakan dengan sederhana, tetapi selalu terasa ada yang tidak sederhana di dalamnya
- Alurnya seperti bayangan berkelebat, tetapi membuat kita terus teringat
- Serupa permata mungil yang membiaskan banyak cahaya, kita terus terpesona setiapkali membacanya.
- Seperti sebuah ciuman, fiksimini jangan terlalu sering diulang-ulang
- Bila puisi mengolah bahasa, fiksimini menyuling cerita, menyuling dunia.
- Ia tak semata membuat tawa. Karna ia adalah gema tawanya.
- Kau kira fiksimini ialah kolam kecil, tapi kau tak pernah mampu menduga kedalamanya.
- Di ujung kisahnya: kita seperti mendapati teka-teki abadi yang tak bertepi.
- Pelan-pelan kau menyadari, ia sebutir debu yang mampu meledakkan semesta.
- Lupakan semua diktum itu. Mulailah menulis fiksimini!
Ya, itulah sedikit tentang fiksimini. Mari kita bersetubuh dengan kata-kata. Dan selanjutnya nikmati sensasi orgasmenya.
Kamis, 18 Oktober 2012
KIRIMAN DARI MASA LALU
Aku menerima sebuah paket. Entah dari mana. Terbungkus rapi tanpa nama pengirimnya.
"Ini benar buat saya?" tanyaku pada sang kurir.
"Benar, Mas. Ini nama dan alamat panjenengan, kan?" ia menunjuk pada secarik kertas yang tertempel dipaket itu. Ya, itu memang nama dan alamatku. Tapi dari siapa?
Dan aku masih mengira-ngira siapa si pengirim. Bahkan sampai si pengantar paket itu berlalu.
Kuletakan paket itu diatas meja. Kupandangi. Penasaran tapi aku masih takut untuk membukanya. Siapa tau isinya adalah bom. Atau benda lain yang bisa menimbulkan masalah buatku dikemudian hari. Ya, siapa tau.
Kotak persegi seukuran lunch box. Beratnya sekitar setengah kiloan. "Ini benar-benar misteri," batinku sok detektif.
Aku kembali mengingat-ingat apakah aku pernah memesan suatu barang pada seseorang atau mungkin via online shop. Tapi pikiranku cuma berputar-putar dan tak berhasil menemukan nama atau wajah seseorang yang pas untuk dicurigai sebagai si pengirim gelap.
Aku menghempaskan tubuhku ke kasur sementara mataku terus melekat pada paket mesterius berbungkus kertas payung warna coklat itu. Helaan nafasku terasa tidak biasa.
Mungkin kamu akan mengatakan aku terlalu drama. Hanya karena paket kecil itu aku bisa segalau ini. Tinggal sobek bungkusnya dan buka. Akan terjawab semua rasa penasaranku. Dan urusan selesai.
Tapi tidak semudah itu buatku.
Karena ini adalah satu hal yang aneh bagiku setelah kejadian dua tahun yang lalu.
Hah? Dua tahun yang lalu? Ternyata sudah cukup lama.
Dan kemudian yang terjadi adalah potongan-potongan adegan yang berkelebat layaknya sebuah slide film. Acak tapi bisa membentuk cerita yang sangat jelas. Semua bermuara pada sebuah kehilangan terbesar dalam hidupku.
Tiba-tiba aku tersadar. Selama ini ternyata aku tak merasakan detak jantungku sendiri. Aku tersengal tapi terasa ringan.
Dalam batas kesadaranku, tanganku meraih paket mesterius itu. Laksana harimau mencabik-cabik tubuh mangsanya, kubuka bungkusnya.
Aku terhenyak. Kotak itu kosong. Hanya secarik kertas dengan tulisan singkat.
"Terima kasih telah meminjamkannya kepadaku. Kukembalikan ini. Aku telah mendapat pengganti jantungmu."
Sejak saat itu aku kembali bisa merasakan detak jantungku sendiri.
"Ini benar buat saya?" tanyaku pada sang kurir.
"Benar, Mas. Ini nama dan alamat panjenengan, kan?" ia menunjuk pada secarik kertas yang tertempel dipaket itu. Ya, itu memang nama dan alamatku. Tapi dari siapa?
Dan aku masih mengira-ngira siapa si pengirim. Bahkan sampai si pengantar paket itu berlalu.
Kuletakan paket itu diatas meja. Kupandangi. Penasaran tapi aku masih takut untuk membukanya. Siapa tau isinya adalah bom. Atau benda lain yang bisa menimbulkan masalah buatku dikemudian hari. Ya, siapa tau.
Kotak persegi seukuran lunch box. Beratnya sekitar setengah kiloan. "Ini benar-benar misteri," batinku sok detektif.
Aku kembali mengingat-ingat apakah aku pernah memesan suatu barang pada seseorang atau mungkin via online shop. Tapi pikiranku cuma berputar-putar dan tak berhasil menemukan nama atau wajah seseorang yang pas untuk dicurigai sebagai si pengirim gelap.
Aku menghempaskan tubuhku ke kasur sementara mataku terus melekat pada paket mesterius berbungkus kertas payung warna coklat itu. Helaan nafasku terasa tidak biasa.
Mungkin kamu akan mengatakan aku terlalu drama. Hanya karena paket kecil itu aku bisa segalau ini. Tinggal sobek bungkusnya dan buka. Akan terjawab semua rasa penasaranku. Dan urusan selesai.
Tapi tidak semudah itu buatku.
Karena ini adalah satu hal yang aneh bagiku setelah kejadian dua tahun yang lalu.
Hah? Dua tahun yang lalu? Ternyata sudah cukup lama.
Dan kemudian yang terjadi adalah potongan-potongan adegan yang berkelebat layaknya sebuah slide film. Acak tapi bisa membentuk cerita yang sangat jelas. Semua bermuara pada sebuah kehilangan terbesar dalam hidupku.
Tiba-tiba aku tersadar. Selama ini ternyata aku tak merasakan detak jantungku sendiri. Aku tersengal tapi terasa ringan.
Dalam batas kesadaranku, tanganku meraih paket mesterius itu. Laksana harimau mencabik-cabik tubuh mangsanya, kubuka bungkusnya.
Aku terhenyak. Kotak itu kosong. Hanya secarik kertas dengan tulisan singkat.
"Terima kasih telah meminjamkannya kepadaku. Kukembalikan ini. Aku telah mendapat pengganti jantungmu."
Sejak saat itu aku kembali bisa merasakan detak jantungku sendiri.
CINTA DAN SENDAL JEPIT
Cincin, burung merpati, hati yang bertaut, semua adalah simbol bagi pasangan yang sedang dimabok cinta. Lambang kesetiaan.
Tapi buat saya, tak ada yang lebih bisa mewakili dari sebuah kesetiaan selain sendal jepit. Ya, sendal jepit, pemirsa.
Di fungsi nyatanya, sendal jepit adalah sebuah kesederhanaan, kebebasan sekaligus eksistensi diri yang merdeka. Mewakili kaum pinggiran atau masyarakat kelas tiga.
Kamu akan dipandang slenge'an, urakan dan tidak sopan atau bahkan langsung diusir satpam saat menemui pejabat dikantornya dengan mengenakan sendal jepit. Semahal apapun harganya.
Padahal, jika dilihat dari fungsinya, apa sih yang membedakan antara sendal jepit dengan sepatu atau alas kaki lain? Semua toh sama-sama berfungsi menjadi alas dan pelindung kaki dari benda-benda yang tidak ingin kita injak secara langsung. Bahkan, kita justru lebih merasa nyaman saat memakai sendal jepit, bukan? Dan kadang, sendal jepit bisa punya fungsi yang lebih. Buat lempar kirik, misalnya. Tapi tetap saja dipandang sepele. Yah, itulah sendal jepit.
Jadi jika kamu merasa hidup kamu tetap disepelekan meskipun kamu sendiri merasa sudah banyak melakukan sesuatu yang bermanfaat, mungkin dikehidupan sebelumnya kamu adalah sebuah sendal jepit. Mungkin.
Tapi dari segala kesederhanaan dan ke-sepele-an sepasang sendal jepit, ada simbol kesetiaan yang luar biasa. Ya, kesetiaan kepada pasangan. Sepasang sendal jepit akan terasa nyaman kita pakai jika keduanya memang benar-benar pasangan aslinya. Pernah ngerasain pakai sendal jepit kanan semua atau kiri semua? Atau pakai cuma sebelah saja?
Saya pernah punya sepasang sendal jepit kesayangan. Kemana-mana selalu saya pakai. Karena waktu itu saya punya sendal ya cuma itu. Saking seringnya dipakai sampai warnanya kusam dan alasnya menipis persis papir. Bahkan sendal jepit itu sudah menjadi semacam ikon dan bagian dari hidup saya. Lebay ya? Tapi ya begitulah adanya.
Pernah beberapa kali bagian jepitnya lepas karena lubang pengaitnya sudah dol. Beberapa kali juga masih bisa dibenerin dan bisa dipakai lagi. Sampai akhirnya benar-benar putus tus dan tidak bisa dipakai lagi. Dan itu hanya terjadi pada sendal jepit yang bagian kiri saja. Sementara yang sebelah kanan masih baik-baik saja.
Awalnya saya berpikir untuk mencari pasangan sendal jepit saya yang kanan. Kebetulan ada teman yang punya sendal jepit dengan warna dan ukuran yang sama. Kebetulan lagi cuma bagian kiri saja. Kebetulan sekali, bukan?
Akhirnya saya dan teman saya sepakat untuk besanan, menjodohkan sendal kami masing-masing. Dan saya kembali punya sendal jepit satu pasang.
Tapi ternyata, perjodohan itu tidak berlansung lama karena saya merasa tidak nyaman sama sekali memakainya. Aneh saja, rasanya. Sampai akhirnya saya menyadari, bahwa sendal jepit saya yang kanan memang tak cocok dan tak akan pernah cocok dengan sendal jepit teman saya yang sebelah kiri. Meski mereknya sama, warnanya sama dan ukurannya juga sama.
Akhirnya saya tau bahwa sendal jepit hanya dibuat untuk pasangannya saja. Dan tak bisa digantikan atau menggantikan sendal jepit yang lain. Setia sekali. (oke, saatnya kita bilang: WOW..)
Begitu juga dengan cinta dan kesetiaan. Kita bisa ketemu dengan banyak orang. Berinteraksi atau bahkan berhubungan secara spesial. Tapi hanya untuk satu orang saja sebenarnya kita dipasangkan.
So, kalo kamu adalah penganut faham kesetiaan-isme, mestinya saat ijab qobul kamu berani berkata, "Saya terima nikahnya Fulan binti Fulan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sepasang sendal jepit. Tunai."
Tapi buat saya, tak ada yang lebih bisa mewakili dari sebuah kesetiaan selain sendal jepit. Ya, sendal jepit, pemirsa.
Di fungsi nyatanya, sendal jepit adalah sebuah kesederhanaan, kebebasan sekaligus eksistensi diri yang merdeka. Mewakili kaum pinggiran atau masyarakat kelas tiga.
Kamu akan dipandang slenge'an, urakan dan tidak sopan atau bahkan langsung diusir satpam saat menemui pejabat dikantornya dengan mengenakan sendal jepit. Semahal apapun harganya.
Padahal, jika dilihat dari fungsinya, apa sih yang membedakan antara sendal jepit dengan sepatu atau alas kaki lain? Semua toh sama-sama berfungsi menjadi alas dan pelindung kaki dari benda-benda yang tidak ingin kita injak secara langsung. Bahkan, kita justru lebih merasa nyaman saat memakai sendal jepit, bukan? Dan kadang, sendal jepit bisa punya fungsi yang lebih. Buat lempar kirik, misalnya. Tapi tetap saja dipandang sepele. Yah, itulah sendal jepit.
Jadi jika kamu merasa hidup kamu tetap disepelekan meskipun kamu sendiri merasa sudah banyak melakukan sesuatu yang bermanfaat, mungkin dikehidupan sebelumnya kamu adalah sebuah sendal jepit. Mungkin.
Tapi dari segala kesederhanaan dan ke-sepele-an sepasang sendal jepit, ada simbol kesetiaan yang luar biasa. Ya, kesetiaan kepada pasangan. Sepasang sendal jepit akan terasa nyaman kita pakai jika keduanya memang benar-benar pasangan aslinya. Pernah ngerasain pakai sendal jepit kanan semua atau kiri semua? Atau pakai cuma sebelah saja?
Saya pernah punya sepasang sendal jepit kesayangan. Kemana-mana selalu saya pakai. Karena waktu itu saya punya sendal ya cuma itu. Saking seringnya dipakai sampai warnanya kusam dan alasnya menipis persis papir. Bahkan sendal jepit itu sudah menjadi semacam ikon dan bagian dari hidup saya. Lebay ya? Tapi ya begitulah adanya.
Pernah beberapa kali bagian jepitnya lepas karena lubang pengaitnya sudah dol. Beberapa kali juga masih bisa dibenerin dan bisa dipakai lagi. Sampai akhirnya benar-benar putus tus dan tidak bisa dipakai lagi. Dan itu hanya terjadi pada sendal jepit yang bagian kiri saja. Sementara yang sebelah kanan masih baik-baik saja.
Awalnya saya berpikir untuk mencari pasangan sendal jepit saya yang kanan. Kebetulan ada teman yang punya sendal jepit dengan warna dan ukuran yang sama. Kebetulan lagi cuma bagian kiri saja. Kebetulan sekali, bukan?
Akhirnya saya dan teman saya sepakat untuk besanan, menjodohkan sendal kami masing-masing. Dan saya kembali punya sendal jepit satu pasang.
Tapi ternyata, perjodohan itu tidak berlansung lama karena saya merasa tidak nyaman sama sekali memakainya. Aneh saja, rasanya. Sampai akhirnya saya menyadari, bahwa sendal jepit saya yang kanan memang tak cocok dan tak akan pernah cocok dengan sendal jepit teman saya yang sebelah kiri. Meski mereknya sama, warnanya sama dan ukurannya juga sama.
Akhirnya saya tau bahwa sendal jepit hanya dibuat untuk pasangannya saja. Dan tak bisa digantikan atau menggantikan sendal jepit yang lain. Setia sekali. (oke, saatnya kita bilang: WOW..)
Begitu juga dengan cinta dan kesetiaan. Kita bisa ketemu dengan banyak orang. Berinteraksi atau bahkan berhubungan secara spesial. Tapi hanya untuk satu orang saja sebenarnya kita dipasangkan.
So, kalo kamu adalah penganut faham kesetiaan-isme, mestinya saat ijab qobul kamu berani berkata, "Saya terima nikahnya Fulan binti Fulan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sepasang sendal jepit. Tunai."
SURAT UNTUK SATRYA
Ini adalah sebuah perjalanan. Yang akan berhenti entah kapan dan dimana. Apa yang telah kita lakukan? Dan apa lagi? Entahlah. Karena kita hanya menjalani bukan pemilik.
Ini tak cukup untuk merekam semuanya. Tapi setidaknya ada yang berjejak meski samar. Dan kelak kau akan tau inilah prasasti untukmu. Anakku.
Ini tak cukup untuk merekam semuanya. Tapi setidaknya ada yang berjejak meski samar. Dan kelak kau akan tau inilah prasasti untukmu. Anakku.
Langganan:
Komentar (Atom)
.jpg)



