"Kopi ini terasa lebih pahit," gumamku.
Kulirik lagi dia
melalui ujung mataku lalu kembali kuhirup cangkir yang masih menempel
dibibirku. Benar-benar pahit. Alisku sampai berkerut dan
kukecap-kecapkan lidahku untuk sedikit mengurangi rasa pahitnya.
Kuletakan cangkir yang baru kukecap sedikit isinya itu keatas meja.
"Jangan bilang kamu ga punya gula," candaku.
Lagi-lagi dia hanya tersenyum. "Aku sengaja," katanya singkat dalam senyumannya.
"Sengaja ingin membunuhku?"
Dia
terkekeh. Aku ikut tertawa. Bahagia rasanya melihat dia tertawa seperti
itu. Dan tiba-tiba dia meraih tanganku dan digenggamnya erat.
"Aku
mencintaimu..." suaranya nyaris tak terdengar. Dan bibirku bereaksi
spontan mengeluarkan kata-kata klise. "Aku juga.." kubalas genggamannya.
Kutatap
matanya. Mata yang selalu membuatku tak berdaya. Yang seperti
menghipnotisku untuk masuk dan menguak segala rahasia didalamnya. Mata
yang bulat dengan alis tebal teratur. Yang bisa memancarkan kelembutan
dan ketegasan dalam waktu yang bersamaan.
"Aku sengaja membuat kopi pahit untukmu, Abi. Tanpa gula sama sekali.."
"Untuk merayakan satu tahun kebersamaan kita?" potongku.
Ya,
hari ini adalah genap satu tahun kami menjalani hari-hari penuh
kebersamaan. Dan selama satu tahun pula aku merasakan yang belum pernah
aku rasakan dengan kekasih-kekasihku yang lain sebelumnya.
Kedekatan
kami berawal disebuah TOT tentang kepedulian penanggulangan HIV/ Aids.
Saat itu ia menjadi trainer dan aku salah satu peserta dari sebuah LSM. Dan saat acara usai, dengan alasan satu arah, aku menawarinya untuk mengantarkannya pulang.
Sepanjang perjalanan kami ngobrol akrab
dilanjutkan saling sms, curhat lewat telpon dan akhirnya kami sepakat
untuk menjadi sepasang kekasih. Klise dan sangat standar.
Aku tidak berusaha menyembunyikan hubungan kami. Tapi tidak
juga memperlihatkannya secara mencolok. Kami menjalani semua dengan
hati. Dan yang paling penting adalah aku merasa sangat nyaman
bersamanya. Bukannya mau membandingkan, tapi aku tidak pernah senyaman
ini saat aku menjalin hubungan dengan Dewi, Winda, Ine atau
perempuan-perempuan lainnya.
"Aku membuatkanmu kopi pahit agar kau terbiasa.." suaranya mengagetkanku. Tangannya masih menggenggam tanganku.
"Terbiasa dengan apa?"
"Dengan semua yang pahit."
Aku
masih belum mengerti maksudnya. Tapi perasaanku mengatakan, ini serius.
Aku mengenalnya. Sangat mengenalnya. Dia jarang bicara kecuali untuk
hal-hal yang penting. Dan ketika dia mulai puitis, berarti pasti ada
yang serius.
Kutatap matanya. Mencoba mencari penjelasan didalamnya. Tapi seperti biasa aku justru tenggelam.
"Jangan menatapku seperti itu.." dia mencoba mengalihkan pandangannya ketempat lain.
"Ada apa sebenarnya?"
Dia menghela nafas. Bisa kurasakan sesak dadanya dari hembusannya yang sempat tersendat. Dan tiba-tiba akupun merasa nafasku menjadi berat.
"Aku sangat mencintaimu." katanya kemudian.
"Aku bisa merasakannya..Lalu?" aku kembali mencari jawaban didalam matanya.
"Kamu adalah hal terindah dalam hidupku.."
"Aku tahu itu."
"Aku
bahagia saat bersamamu. Aku nyaman. Aku menemukan diriku pada setiap
nafasmu. Pada setiap debar dadamu. Pada lembut bibirmu..." kata-katanya sempat terhenti.
Ini pasti ada yang tidak beres, pikirku. Aku hendak menyela. Tapi sejenak kuputuskan untuk membiarkannya berbicara.
"Tapi aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini," lanjutnya.
Hmm... jadi ini yang ingin dia katakan? Tapi...
"Apa?!" tak urung aku terhenyak. "Maksudmu?"
"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, Abi."
Aku
butuh waktu untuk mencerna dan menerima kata-katanya. Lalu, "Kenapa?"
tanyaku putus asa. Suaruku begitu pelan, nyaris aku sendiri yang
mendengarnya. Tapi rupanya dia mendengar pertanyaanku.
"Abi.."
kudengar suaranya. Tangannya kembali menggenggam tanganku yang tadi
sempat terlepas. Masih terasa hangat. Tapi beda. "Dari awal kita tau,
semestinya kita tidak menjalani ini..."
"Tapi kita saling mencintai.." kali ini aku memotong kalimatnya.
"Aku tahu. Tapi ini tidak semestinya.."
"Apa aku salah mencintaimu?"
Tidak pernah ada yang salah dengan cinta.."
"Kenapa dulu..."
"Karena
kau begitu mempesonaku.."kali ini dia yang memotong kalimatku. "Kau
membuatku tidak berdaya. Kau membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Aku
bahagia bersamamu. Kau terlalu sempurna untukku..."
Aku menatap matanya. Dan kembali dia menghindari tatapan mataku.
"Kita salah, Abi. Ini yang terbaik untuk kita..."
Tapi
aku tidak puas dengan penjelasannya. "Someone else?" tanyaku tajam to
the point. Dan sesuatu yang tidak aku harapkan terjadi. Dia mengangguk.
"Siapa dia?" aku mendengar suaraku bergetar.
"Yolanda.." kudengar suaranya pelan. "Aku akan menikahinya bulan depan..."
Dan
kata-kata berikutnya sudah tidak penting lagi karena semua seperti
menguap begitu saja. Aku kembali mengecap-ngecapkan lidahku mencari
sisa-sisa rasa pahit kopi yang tadi aku minum. Kopi terakhir yang dibuat
oleh Bram, kekasih sejenisku.
Dan hari-hari berikutnya setiap kopi yang aku minum jadi terasa lebih pahit.
Kamis, 22 November 2012
Selasa, 20 November 2012
TANAH SEJENGKAL
Malam ini terasa lebih lengang tak seperti biasanya. Dentang dua belas kali telah lewat beberapa menit yang lalu. Gerimis yang turun sejak Isya tadi seperti mewakili langit yang menangis. Lolong anjing kampung tak hentinya bersahutan dengan suara kodok. Mengalunkan symphoni menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Sesuatu telah terjadi malam ini.
Aku terus memperhatikan dua laki-laki itu dari jarak yang aku pikir aman dari jangkauan pandangan mereka. Keduanya nampak berjalan setengah tergesa-gesa dengan beban dipundak menuju area kebun jagung dekat dermaga. Aku terus mengikutinya tanpa suara. Sesaat aku berhenti. Seekor burung hantu yang hinggap diranting pohon nangka sempat mengagetkanku. Matanya yang bulat menatapku tajam lalu tiba-tiba mengepakan sayapnya dan terbang.
"Disini?" itu suara Lek Sapan.
"Sebaiknya agak lebih ketengah lagi," jawab Lek Masum.
Dan ketika langit menjerit dengan didahului mengeluarkan cahayanya, saat itu aku sempat melihat raut tegang di wajah keduanya. Mereka kembali berjalan lebih masuk ketengah.
Ya, aku memang mengenal kedua laki-laki itu. Lek Masum dan Lek Sapan. Mereka sekampung denganku dan warga kampung mengenal mereka sebagai anak buah juragan Arsa.
" Disini." Suara Lek Masum terdengar bergetar.
Mereka berhenti ditempat datar dekat pohon randu ditengah kebun jagung. Lek Masum mulai mencangkuli tanahnya dengan cangkul yang dibawanya dan Lek Sapan menjatuhkan begitu saja beban yang sedari tadi dipanngulnya ketanah becek yang tersiram gerimis.
....
"Assalamualaikun... Imam ada, Yu?"
"Walaikum salam.. O, kamu, Sum.. Ada itu nembe selesai Maghriban. Tumben nyari Imam. Ada yang penting?"
Selepas Maghrib tadi mereka berdua mencariku kerumah.
"Ah, ga ada apa-apa kok, Yu.. Cuma rembugan biasa.."
"Imam.." Ibuku memanggil. "Ini ada Lek Masum sama Lek Sapan."
Aku keluar menemui mereka, "Njanur gunung, Lek.. Monggo duduk dulu..."
"Ga usah," Lek Sapan yang menjawab. "Kami cuma disuruh menyampaikan undangan dari juragan Arsa. Malam ini kamu ditunggu dirumah.."
Mendengar nama juragan Arsa, wajah Ibuku langsung berubah. "Lha ada apalagi juragan Arsa ngundang anakku? Kan sudah jelas jawabannya. Anakku ga mau menjual tanahnya. Lagipula itukan tanah peninggalan almarhum bapaknya Imam dan ga bakal dijual meski dibeli berapapun..." nada bicara ibuku mulai tinggi. Aku hanya menghela nafas. Masalah ini lagi, pikirku.
Sudah berapa kali juragan Arsa baik sendiri maupun melalui suruhannya memintaku untuk menjual sepetak tanah yang terletak diujung kampung. Katanya mau dibangun tempat hiburan untuk anak-anak muda kampung. Dan yang disebut hiburan itu adalah musik dengan volume keras, perempuan-perempuan cantik dan minuman-minuman memabokan. Dan berulang kali juga aku menolak tawarannya. Tapi rupanya, bukan juragan Arsa jika mundur begitu saja. Dia tetap merayuku dan ibuku untuk mau menjual tanahnya baik dengan cara halus atau intimidasi. Tapi kamipun tetap bertahan. Meski untuk itu tak jarang kami mendapat teror dan ancaman-ancaman.
"Lek," kataku kemudian. "Kalo juragan Arsa mengundang saya untuk membahas soal tanah peninggalan bapak, sampaikan padanya, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya menolaknya.."
"Oh, tidak, Mam..." Lek Masum cepat memotong. "Menurut juragan Arsa, dia cuma mau ngundang kamu untuk ngobrol-ngobrol saja. Tidak ada hubungannya sama tanahmu.."
"Iya. Betul itu, Mam.." Lek Sapan ikut menimpali.
Aku menatap wajah ibuku. Dan aku bisa membaca rona kekhawatiran dikerutnya.
"Baiklah.. Insya Allah saya akan datang ba'da Isya nanti."
"Mam.." ibuku mencengkeram kuat lenganku.
"Ga papa, Bu.." kugenggam lembut tangannya. "Tidak baik menolak undangan seseorang. Kita tidak bisa untuk selalu bershu'udzon bukan?"
"Kalo begitu, kita berangkat sekarang saja, Mam.." kata Lek Masum.
"Kok sekarang? Kan ba'da Isya nanti, Lek.." jawabku.
"Sebaiknya sekarang saja biar nanti tidak kemalaman pulangnya."
"Baiklah.."kutatap wajah ibuku. Kucium tangannya. "Saya akan baik-baik saja, Bu.."
Ibuku hanya terdiam menatapku tanpa sepatah kata. Bahkan tetap tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya saat aku mengucapkan salam.
Dan sesaat kemudian aku telah berjalan beriringan bertiga dengan Lek Masum dan Lek Sapan. Sepanjang perjalanan aku mencoba menyusun kalimat jawaban seandainya juragan Arsa kembali membicarakan soal tanah.
"Kamu benar-benar ga mau jual tanahmu, Mam?" suara Lek Sapan memecah kebisuan setelah sekian lama kami berjalan dalam diam. Aku sempat kaget dan tidak siap dengan pertanyaannya.
"Ada apa, Lek?" tanyaku.
"Kamu bener-bener ga mau jual tanahmu?" ulang Lek Sapan.
Aku menggeleng. "Tidak, Lek. Saya sudah jelaskan berulang kali sama juragan Arsa. Karena itu tanah peninggalan almarhum bapak. Dan bapak dulu sudah berpesan untuk jangan pernah menjual tanah itu apapun alasannya.."
"Masalahnya, tinggal tanahmu saja yang belum dijual ke juragan Arsa. Semua warga kampung yang tanahnya mau dibangun tempat hiburan itu sudah setuju untuk menjual tanahnya. Bahkan juragan Arsa memberikan harga spesial untuk tanahmu itu.."
"Maaf, Lek.." aku menghentikan langkahku. "Tadi saya sudah bilang, jika ini adalah soal tanah saya, saya tidak akan memenuhi undangan juragan Arsa. Sebaiknya saya pulang saja.."
"Kamu keras kepala seperti bapakmu, Mam!"
Aku berbalik hendak meninggalkan mereka. Dan baru satu langkah aku ayunkan kakiku, tiba-tiba aku merasakan benda keras menghajar tengkukku. Mataku berkunang-kunang dan pandanganku mengabur. Aku masih sempat mengingat wajah ibuku sebelum akhirnya semua menjadi gelap.
.....
Aku terus memperhatikan kedua laki-laki itu. Mereka terus mencangkuli tanah. Keringat mereka bercampur dengan air gerimis. Dan saat kilat menyambar, aku melihat jasadku tergeletak ditanah yang becek disamping mereka.
cilacap, 20 november 2012.
Aku terus memperhatikan dua laki-laki itu dari jarak yang aku pikir aman dari jangkauan pandangan mereka. Keduanya nampak berjalan setengah tergesa-gesa dengan beban dipundak menuju area kebun jagung dekat dermaga. Aku terus mengikutinya tanpa suara. Sesaat aku berhenti. Seekor burung hantu yang hinggap diranting pohon nangka sempat mengagetkanku. Matanya yang bulat menatapku tajam lalu tiba-tiba mengepakan sayapnya dan terbang.
"Disini?" itu suara Lek Sapan.
"Sebaiknya agak lebih ketengah lagi," jawab Lek Masum.
Dan ketika langit menjerit dengan didahului mengeluarkan cahayanya, saat itu aku sempat melihat raut tegang di wajah keduanya. Mereka kembali berjalan lebih masuk ketengah.
Ya, aku memang mengenal kedua laki-laki itu. Lek Masum dan Lek Sapan. Mereka sekampung denganku dan warga kampung mengenal mereka sebagai anak buah juragan Arsa.
" Disini." Suara Lek Masum terdengar bergetar.
Mereka berhenti ditempat datar dekat pohon randu ditengah kebun jagung. Lek Masum mulai mencangkuli tanahnya dengan cangkul yang dibawanya dan Lek Sapan menjatuhkan begitu saja beban yang sedari tadi dipanngulnya ketanah becek yang tersiram gerimis.
....
"Assalamualaikun... Imam ada, Yu?"
"Walaikum salam.. O, kamu, Sum.. Ada itu nembe selesai Maghriban. Tumben nyari Imam. Ada yang penting?"
Selepas Maghrib tadi mereka berdua mencariku kerumah.
"Ah, ga ada apa-apa kok, Yu.. Cuma rembugan biasa.."
"Imam.." Ibuku memanggil. "Ini ada Lek Masum sama Lek Sapan."
Aku keluar menemui mereka, "Njanur gunung, Lek.. Monggo duduk dulu..."
"Ga usah," Lek Sapan yang menjawab. "Kami cuma disuruh menyampaikan undangan dari juragan Arsa. Malam ini kamu ditunggu dirumah.."
Mendengar nama juragan Arsa, wajah Ibuku langsung berubah. "Lha ada apalagi juragan Arsa ngundang anakku? Kan sudah jelas jawabannya. Anakku ga mau menjual tanahnya. Lagipula itukan tanah peninggalan almarhum bapaknya Imam dan ga bakal dijual meski dibeli berapapun..." nada bicara ibuku mulai tinggi. Aku hanya menghela nafas. Masalah ini lagi, pikirku.
Sudah berapa kali juragan Arsa baik sendiri maupun melalui suruhannya memintaku untuk menjual sepetak tanah yang terletak diujung kampung. Katanya mau dibangun tempat hiburan untuk anak-anak muda kampung. Dan yang disebut hiburan itu adalah musik dengan volume keras, perempuan-perempuan cantik dan minuman-minuman memabokan. Dan berulang kali juga aku menolak tawarannya. Tapi rupanya, bukan juragan Arsa jika mundur begitu saja. Dia tetap merayuku dan ibuku untuk mau menjual tanahnya baik dengan cara halus atau intimidasi. Tapi kamipun tetap bertahan. Meski untuk itu tak jarang kami mendapat teror dan ancaman-ancaman.
"Lek," kataku kemudian. "Kalo juragan Arsa mengundang saya untuk membahas soal tanah peninggalan bapak, sampaikan padanya, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya menolaknya.."
"Oh, tidak, Mam..." Lek Masum cepat memotong. "Menurut juragan Arsa, dia cuma mau ngundang kamu untuk ngobrol-ngobrol saja. Tidak ada hubungannya sama tanahmu.."
"Iya. Betul itu, Mam.." Lek Sapan ikut menimpali.
Aku menatap wajah ibuku. Dan aku bisa membaca rona kekhawatiran dikerutnya.
"Baiklah.. Insya Allah saya akan datang ba'da Isya nanti."
"Mam.." ibuku mencengkeram kuat lenganku.
"Ga papa, Bu.." kugenggam lembut tangannya. "Tidak baik menolak undangan seseorang. Kita tidak bisa untuk selalu bershu'udzon bukan?"
"Kalo begitu, kita berangkat sekarang saja, Mam.." kata Lek Masum.
"Kok sekarang? Kan ba'da Isya nanti, Lek.." jawabku.
"Sebaiknya sekarang saja biar nanti tidak kemalaman pulangnya."
"Baiklah.."kutatap wajah ibuku. Kucium tangannya. "Saya akan baik-baik saja, Bu.."
Ibuku hanya terdiam menatapku tanpa sepatah kata. Bahkan tetap tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya saat aku mengucapkan salam.
Dan sesaat kemudian aku telah berjalan beriringan bertiga dengan Lek Masum dan Lek Sapan. Sepanjang perjalanan aku mencoba menyusun kalimat jawaban seandainya juragan Arsa kembali membicarakan soal tanah.
"Kamu benar-benar ga mau jual tanahmu, Mam?" suara Lek Sapan memecah kebisuan setelah sekian lama kami berjalan dalam diam. Aku sempat kaget dan tidak siap dengan pertanyaannya.
"Ada apa, Lek?" tanyaku.
"Kamu bener-bener ga mau jual tanahmu?" ulang Lek Sapan.
Aku menggeleng. "Tidak, Lek. Saya sudah jelaskan berulang kali sama juragan Arsa. Karena itu tanah peninggalan almarhum bapak. Dan bapak dulu sudah berpesan untuk jangan pernah menjual tanah itu apapun alasannya.."
"Masalahnya, tinggal tanahmu saja yang belum dijual ke juragan Arsa. Semua warga kampung yang tanahnya mau dibangun tempat hiburan itu sudah setuju untuk menjual tanahnya. Bahkan juragan Arsa memberikan harga spesial untuk tanahmu itu.."
"Maaf, Lek.." aku menghentikan langkahku. "Tadi saya sudah bilang, jika ini adalah soal tanah saya, saya tidak akan memenuhi undangan juragan Arsa. Sebaiknya saya pulang saja.."
"Kamu keras kepala seperti bapakmu, Mam!"
Aku berbalik hendak meninggalkan mereka. Dan baru satu langkah aku ayunkan kakiku, tiba-tiba aku merasakan benda keras menghajar tengkukku. Mataku berkunang-kunang dan pandanganku mengabur. Aku masih sempat mengingat wajah ibuku sebelum akhirnya semua menjadi gelap.
.....
Aku terus memperhatikan kedua laki-laki itu. Mereka terus mencangkuli tanah. Keringat mereka bercampur dengan air gerimis. Dan saat kilat menyambar, aku melihat jasadku tergeletak ditanah yang becek disamping mereka.
cilacap, 20 november 2012.
Rabu, 14 November 2012
AKU DAN LAKI LAKI TUA GILA
Setiap aku lewati jalan ini, dia pasti menoleh dan tersenyum
padaku. Kadang kubalas sekilas. Tapi lebih sering aku abaikan. Apalagi
ketika mulutnya penuh dengan makanan dan memperlihatkan giginya yang
kuning dan kotor.
Seperti sore ini, laki-laki itu tengah berjongkok di pinggir timbunan sampah dekat kampungku. Mengais-ngais mencari sisa-sisa yang bisa dimakannya.
Aku teringat dengan bungkusan yang kubawa. Tadi sebelum pulang aku mampir ketempat seorang kerabat dan pulangnya dibawakan nasi gardus. "Bawa saja, masih utuh, kok. Lagian disini tidak ada yang memakan. Daripada mubazir," kata kerabatku waktu itu. Dan aku bukanlah tipe orang yang 'prewira', yang bisa pura-pura menolak padahal memang membutuhkannya. Apalagi pada kerabatku yang satu ini. Yang tahu persis keadaanku.
"Ini, Pak," kosodorkan tas plastik hitam berisi nasi gardus itu.
Sejenak dia memandangku lalu terkekeh. Dengan sigap dibukanya dan wajahnya langsung berubah dan seringainya semakin lebar. Begitu lebarnya sampai seluruh wajahnya nyaris berubah menjadi mulutnya. Aku bergidik. Tapi anehnya, aku justru terpengaruh dengan seringainya dan ikut menarik kedua sudut bibirku.
"Humm..." tiba-tiba tangannya menyodorkan nasi bungkus ditangannya.
"Makan saja, Pak.." balasku menolak. Dalam hati aku sempat mengutuk. Masa aku harus makan bareng orang gila dan ditempat seperti ini.
"Humm.." kembali dia menyodorkan bungkusan itu. Dan, Ya Tuhan, matanya itu. Belum pernah aku melihat mata seperti itu. Begitu tulus dan mampu menyedotku. Aku seperti terhipnotis. Dan tiba-tiba aku telah berjongkok disebelahnya.
Laki-laki itu kembali menyodorkan bungkusan nasi gerdusnya kearahku. Dan dengan isyarat tangannya dia memintaku untuk membagi dua.
Dengan tangan gemetar, aku membagi nasi beserta lauknya menjadi dua. Sengaja aku memilih bagian yang lebih sedikit karena aku tidak yakin mampu menghabiskannya meskipun seharian ini perutku belum terisi. Dan sebelum aku menyerahkannya, tiba-tiba tangan laki-laki tua itu telah menukarnya dan sekarang aku justru mendapat bagian yang lebih banyak.
Dengan lahap laki-laki itu mulai memakannya sambil sesekali menyeringai kearahku dan menyuruhku untuk ikut makan. Dan lagi-lagi, mata itu, Ya Tuhan... Dan sesaat kemudian akupun mulai lahap memakan nasi gardus bagianku.
Tubuhku tiba-tiba bergetar. Perasaanku berkecamuk. Seluruh syarafku menegang. Dan semua berkumpul dikedua kelopak mataku membentuk kristal bening yang mulai bergulir tanpa mampu aku bendung. Tak ada kata yang mampu aku ucapkan. Semua seperti terkunci oleh perasaan yang asing tapi begitu indah. Ini begitu nyata. Sangat nyata.
Segala beban seperti menguap. Lepas. Aku merasa begitu ringan. Aku tidak lagi peduli pada laki-laki tua gila disampingku. Tidak juga dengan tatapan orang-orang yang lewat yang memandangku dengan aneh.
"Dia sudah jadi gila..."
"Kasihan, sejak ditinggal anak dan istrinya dia jadi seperti itu..."
"Depresi..."
"Stress..."
"Padahal dia masih muda..."
Semua kata-kata yang terlontar terdengar begitu merdu. Aku tidak peduli. Tidak lagi peduli. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang saya tahu, inilah indahnya berbagi. Karena aku tidak membutuhkan alasan apapun untuk sedikit berbuat baik meski pada laki-laki tua gila yang suka menyeringai.
Dan sejak sat itu, akupun suka menyeringai sendiri.
Seperti sore ini, laki-laki itu tengah berjongkok di pinggir timbunan sampah dekat kampungku. Mengais-ngais mencari sisa-sisa yang bisa dimakannya.
Aku teringat dengan bungkusan yang kubawa. Tadi sebelum pulang aku mampir ketempat seorang kerabat dan pulangnya dibawakan nasi gardus. "Bawa saja, masih utuh, kok. Lagian disini tidak ada yang memakan. Daripada mubazir," kata kerabatku waktu itu. Dan aku bukanlah tipe orang yang 'prewira', yang bisa pura-pura menolak padahal memang membutuhkannya. Apalagi pada kerabatku yang satu ini. Yang tahu persis keadaanku.
"Ini, Pak," kosodorkan tas plastik hitam berisi nasi gardus itu.
Sejenak dia memandangku lalu terkekeh. Dengan sigap dibukanya dan wajahnya langsung berubah dan seringainya semakin lebar. Begitu lebarnya sampai seluruh wajahnya nyaris berubah menjadi mulutnya. Aku bergidik. Tapi anehnya, aku justru terpengaruh dengan seringainya dan ikut menarik kedua sudut bibirku.
"Humm..." tiba-tiba tangannya menyodorkan nasi bungkus ditangannya.
"Makan saja, Pak.." balasku menolak. Dalam hati aku sempat mengutuk. Masa aku harus makan bareng orang gila dan ditempat seperti ini.
"Humm.." kembali dia menyodorkan bungkusan itu. Dan, Ya Tuhan, matanya itu. Belum pernah aku melihat mata seperti itu. Begitu tulus dan mampu menyedotku. Aku seperti terhipnotis. Dan tiba-tiba aku telah berjongkok disebelahnya.
Laki-laki itu kembali menyodorkan bungkusan nasi gerdusnya kearahku. Dan dengan isyarat tangannya dia memintaku untuk membagi dua.
Dengan tangan gemetar, aku membagi nasi beserta lauknya menjadi dua. Sengaja aku memilih bagian yang lebih sedikit karena aku tidak yakin mampu menghabiskannya meskipun seharian ini perutku belum terisi. Dan sebelum aku menyerahkannya, tiba-tiba tangan laki-laki tua itu telah menukarnya dan sekarang aku justru mendapat bagian yang lebih banyak.
Dengan lahap laki-laki itu mulai memakannya sambil sesekali menyeringai kearahku dan menyuruhku untuk ikut makan. Dan lagi-lagi, mata itu, Ya Tuhan... Dan sesaat kemudian akupun mulai lahap memakan nasi gardus bagianku.
Tubuhku tiba-tiba bergetar. Perasaanku berkecamuk. Seluruh syarafku menegang. Dan semua berkumpul dikedua kelopak mataku membentuk kristal bening yang mulai bergulir tanpa mampu aku bendung. Tak ada kata yang mampu aku ucapkan. Semua seperti terkunci oleh perasaan yang asing tapi begitu indah. Ini begitu nyata. Sangat nyata.
Segala beban seperti menguap. Lepas. Aku merasa begitu ringan. Aku tidak lagi peduli pada laki-laki tua gila disampingku. Tidak juga dengan tatapan orang-orang yang lewat yang memandangku dengan aneh.
"Dia sudah jadi gila..."
"Kasihan, sejak ditinggal anak dan istrinya dia jadi seperti itu..."
"Depresi..."
"Stress..."
"Padahal dia masih muda..."
Semua kata-kata yang terlontar terdengar begitu merdu. Aku tidak peduli. Tidak lagi peduli. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang saya tahu, inilah indahnya berbagi. Karena aku tidak membutuhkan alasan apapun untuk sedikit berbuat baik meski pada laki-laki tua gila yang suka menyeringai.
Dan sejak sat itu, akupun suka menyeringai sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)


