Rabu, 16 Desember 2020

SMARTFREN COMMUNITY - MENJAGA HARAPAN DI TENGAH PANDEMI

 

Suatu hari di bulan Februari 2020 saya dihubungi oleh Mbak Erin Cipta, seorang penulis dan penggiat literasi. Ia menyampaikan bahwa akan ada launching sebuah komunitas yang menjadi wadah dari berbagai komunitas yang ada di Cilacap yaitu Smartfren Community. Saya diajak untuk ikut bergabung sekaligus membantu persiapan launching. Dan respon saya waktu itu adalah, “Siap, Mbak.”

            Saya sendiri secara pribadi memang seperti ada semacam ikatan dengan Smartfren. Bukan semata karena saya juga pengguna provider ini, hp android pertama yang saya miliki adalah Andromax G, tapi juga karena Smartfren yang telah me-support saya untuk melahirkan sebuah komunitas Stand Up Comedy Cilacap pertama di tahun 2011. Wajar jika saya cukup antusias saat diajak untuk terlibat di launching Smartfren Community Cilacap ini.

            Akhirnya pada tanggal 20 Februari 2020, di Hotel Fave Cilacap, Smartfren Community Cilacap resmi launching dan menjadi komunitas ke-58 dari Smartfren Community di seluruh Indonesia dengan leadernya Mbak Erin Cipta.



    Saat launching, saya juga bertemu dengan teman-teman dari komunitas lain seperti komunitas literasi, komunitas mural, sangkanparan, social media enthusias dan komunitas lain yang selama ini belum banyak saya ketahui. Ini menjadi menarik ketika berbagai latar belakang komunitas ini berkumpul dalam satu wadah bernama Smartfren Community Cilacap dan bersinergi dalam berkarya dan terus bergerak bersama.

Layaknya sebuah komunitas, kami pun mulai merancang berbagai event yang memungkinkan untuk kami lakukan. Apalagi dengan Smartfren Community yang siap support, membuat kami saat itu berfikir akan banyak peluang dan kesempatan yang bisa kami lakukan. Sampai akhirnya negara api menyerang.

            Pandemi datang layaknya zombie. Tanpa suara dan mematikan. Pun di Cilacap. Sebulan setelah launching, tepatnya awal pertengahan Maret 2020, Cilacap menerapkan lockdown di beberapa wilayah karena ada beberapa warga yang dinyatakan positiv Covid 19. Yang berimbas pada larangan adanya kegiatan yang menimbulkan kerumunan massa. Tentu saja ini sempat membuat kami shock karena beberapa kegiatan Smartfren Community Cilacap yang sudah kami rencanakan akhirnya ambyar. Yah, manusia bisa berencana namun akhirnya Covid juga yang menentukan. Hiks.

            Kami sempat vacum. Termasuk di WAG yang hanya beberapa kali terdengar notif yang isinya share link youtube atau percakapan jayus yang ga penting-penting amat, hehehe. Ini bisa dimaklumi karena semua sibuk bertahan dari pandemi. Bukan hanya dari serangan virus Covid 19 saja tapi juga bertahan hidup dari masalah ekonomi. Karena pendemi benar-benar menghajar kita semua dari berbagai lini pertahanan.

Sampai akhirnya, di bulan Agustus 2020, saya kembali ditelpon oleh Mbak Erin. Setelah basa-basi dan sedikit curhat tentang kucingnya, akhirnya dia menyampaiakan misi sebenarnya kenapa menghubungi saya. Dengan alasan keterbatasan waktu dan tempat, ia meminta saya untuk menggantikannya sebagai Leader Smartfren Community Cilacap. Posisi Mbak Erin memang ada di Cilacap bagian ‘mblesek’ yang menurutnya cukup sulit untuk mengkordinir teman-teman komunitas lain apalagi di masa pandemi ini. Dan alasan ia meminta saya untuk menggantikannya sebagai leader adalah karena posisi saya yang ada di pusat kota dan jadwal nganggur saya yang sering bentrok alias punya banyak waktu luang.

Apakah saya langsung menerima saat itu? Tentu tidak! Karena saya berfikir saya pun akan mengalami kesulitan yang sama seperti Mbak Erin. Perdebatan cukup alot saat itu dan saya tetap menolak. Sampai akhirnya saya harus menyerah ketika Mbak Erin menyerang titik terlemah saya: Pempek Tengiri!

Ya, Mbak Erin menjanjikan satu paket Pempek Tengiri buatannya yang akan dihibahkan secara cuma – cuma untuk saya jika saya mau menggantikannya sebagai Ketua. Dan spontan saya langsung teriak, “Setuju!”

Ah, saya memang lemah di depan pempek!

Eh, tapi pempek emang enak lho. Apalagi kalo dimakan sambil hujan-hujanan. Cukonya ga habis-habis!

            Setelah mendapat restu dari Comdev, saya akhirnya dibaiat sebagai Leader Smartfren Community bersamaan dengan event online Smartfren Community yang saat itu saya menjadi narasumbernya pada hari Kamis, 13 Agustus 2020. Ya, saya hafal hari dan tanggalnya karena saat saya menulis ini saya sambil liat posternya, wkwkwk.


            Sejak saat itu saya mengenal banyak teman-teman sesama leader dari seluruh Indonesia dan mulai paham apa sebenarnya Smartfren Community itu. Awalnya, saya menganggap ini hanyalah sekumpulan pengguna provider smartfren saja. Tapi ternyata lebih dari itu.. Karena di Smartfren Community banyak sekali peluang untuk terus bergerak dan tak berhenti berkarya meski di masa pandemi. Salah satunya adalah event online yang rutin diadakan untuk share informasi dan ilmu. Tentu saja ini membuka kesempatan, bukan hanya untuk saya sebagai leader, tapi juga untuk seluruh rekan-rekan di Smartfren Community Cilacap. Mereka bisa ikut terlibat di kegiatan event online ini untuk  berbagi informasi dan ilmu.

            Tapi ternyata itu belum seberapa, karena Smartfren Community baru-baru ini telah launching program Teman Kreasi Indonesia. Dimana program Teman Kreasi Indonesia ini makin membuka peluang bagi teman-teman komunitas untuk pemberdayaan berbasis usaha barang/jasa atau UMKM. Ini tentu saja akan memberi manfaat yang nyata bukan hanya bagi anggota komunitas tapi juga masyarakat secara luas. Dan Smartfren Community Cilacap pun tak mau lagi ketinggalan langkah. Pada hari Senin, 23 November 2020 telah dilaunching Teman Kreasi Indonesia dengan usahanya Jajanan Mamake yang memproduksi cemilan khas Cilacap seperti Manggleng, Stik Sukun, Keripik Daun Mint/Pegagan dan lainnya.
Dan yang terbaru sebagai penutup di tahun 2020, bersama Smartfren Community kami bisa terlibat di sebuah ajang tahunan para mahasiswa untuk adik-adiknya di SMA/sederajat yaitu CCF, Cilacap Campus Fair 2021. Yang mana tahun ini memasuki tahun ke-11. 

            Pada khirnya, saya tidak bisa lagi mengelak untuk mengatakan bahwa Smartfren Community adalah komunitas terbaik yang pernah saya ikuti karena telah menjaga semangat serta harapan kami meski di masa pandemi.

Smartfren Community. Open Possibility. Sinergi Membangun Negri.


Senin, 21 Desember 2015

Aku Ingin Kaya

Saat kita bertanya pada 10 anak kecil  'Kamu ingin jadi apa?', maka kita akan mendapatkan 10 jawaban yang fariatif. Bisa tentara, dokter, presiden atau apa saja.
Dan mari kita tanya pada 10 orang dewasa dengan pertanyaan yang sama, maka kita akan mendapatkan jawaban yang hampir seragam. Saya bilang hampir seragam karena mereka mungkin membalutnya dengan bahasa yang berbeda, penuh diksi atau muter-muter ga jelas. Tapi tetap saja sama tujuannya, yaitu: 'Aku ingin kaya!'
Punya banyak uang, rumah mewah, deposito, bisnis yang sukses dan lainnya.
Manusiawi. Sangatlah manusiawi ketika manusia ingin kaya. Jadi abaikan saja. Yang saya ingin sampaikan sebenarnya adalah, pada kenyataannya, semakin kita tumbuh dewasa kita akan semakin kehilangan imajinasi.
Saat seorang anak kecil dengan segala kejujurannya berkata 'aku ingin jadi astronot', maka dalam otaknya akan terbayang rangkaian kisah heroik astronot nan gagah berani versinya. Hal ini jelas sangat mungkin tidak akan ada pada imajinasi orang dewasa.
Seperti saat sekarang ini. Saya tiba-tiba kehilangan imajinasi untuk melanjutkan tulisan ini karena dalam benak saya pikiran 'aku ingin kaya' lebih mendominasi. Saya harus buru-buru menyelesaikan permasalahan saya yang hanya bisa diselesaiakan jika saya kaya.
Bahkan tidak jarang karena pikiran 'aku ingin kaya' disadari atau tidak saya justru kehilangan 'kekayaan' yang sudah saya memiliki.
Adakah yang lebih mahal nilainya dari sebuah kejujuran?

Sabtu, 26 April 2014

ABANG

Pffuih!
Aku nyaris tersedak saat mendengar perkataannya. “Oshit!” segera kuletakan cangkir berisi coklat hangat dan menyambar kertas tisu yang tergeletak diatas meja untuk membersihkan cipratan coklat dibajuku.
Laki-laki didepanku terkekeh. “Kenapa? Ada masalah?” tanyanya sambil menyalakan rokok. Dan itu batang rokok ke enam-nya sejak kami duduk di pojok cafe ini, setengah jam yang lalu. Dia memang perokok berat, aku tahu itu. 
“Abang serius?” tanyaku kemudian.
“Apa?”
“Ya yang Abang katakan tadi.”
“Gue ga akan menikah lagi? Iya. Gue serius. Sangat serius.”
“Terus pacar Abang gimana?”
“Pacar yang mana nih?”
Aku nyengir. Iya juga sih. Pertanyaanku tentang pacar ke dia itu jadi berkesan ambigu. Terlalu banyak  perempuan yang mengelilingi kehidupan lelaki didepanku ini. Jadi kalo mau ngobrolin pacar dengan dia ya harus sebut nama. Minimal ciri-ciri khusus atau sesuatu yang membedakan salah satu perempuannya dengan perempuan-perempuannya yang lain. Ah, lelaki ini memang bangsat! Hahaha.
“Ya yang sering Abang ceritain dulu.” Lanjutku. “Yang Abang bilang jatuh cinta beneran sama dia. Eh.. siapa itu namanya?” aku coba mengingat.
“Riska?”
“Ya. Riska.” Ingatanku langsung terbayang pada sosok perempuan cantik dengan pipi yang selalu merona. “Terus gimana dengan Riska, Bang? Bukannya dulu Abang pernah cerita kalo mau nikah sama dia?”
Abang tidak langsung menjawab. Tiba-tiba dia terlihat gelisah dan menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Gue udah putus dengan Riska.” suara Abang terdengar disela-sela hembusan rokoknya. Dan selintas tadi aku melihat ada segaris mendung dimata Abang. Ya, benar-benar selintas. Tapi itu cukup buatku untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan hubungannya dengan statment Abang yang tidak akan pernah menikah lagi.
Aku ikut menghela nafas. “Abang patah hati?”
Dia menatapku. Lalu tersenyum. “Lu pernah ngeliat Abang patah hati?”
Aku menggeleng. “Tapi mata Abang seperti mata orang yang sedang patah hati. Bahkan waktu Abang cerai dengan Kak Yuni juga ga gini-gini amat deh,” Kulihat Abang sudah mau menjawab tapi segera kusambar. “Jadi karena Abang patah hati terus Abang memutuskan untuk tidak menikah?”
“Hahaha... Rani.. Rani...” Dia mengucel-ucel rambutku. Ah, sebel. “Idih, apaan sih? Kebiasaan deh!” kataku ketus sambil menjauhkan kepalaku dari tangan Abang. Lelaki itu malah makin terkekeh. “Kalo pun gue putus sama Riska, itu ga cukup untuk membuat gue patah hati. Apalagi sampai gue mutusin buat ga nikah.”
“Bohong!” kataku cepat. “Jelas-jelas mata Abang bicara kalo Abang patah hati karena putus dari Riska. Dan karena Abang patah hati, Abang emosional trus mutusin buat ga nikah selamanya!”
Lelaki dihadapanku terdiam. Dia mematikan rokoknya ke asbak dan segera menyalakan batang rokok selanjutnya. Edan, sudah kayak cerobong asap aja tuh mulut. Lalu dengan tenang dia berkata, “Rani, lu boleh bilang gue patah hati.. emosional atau apalah, terserah. Tapi bukan karena itu gue mutusin buat ga nikah.”
“Tapi Abang patah hati beneran, kan?” kejarku. Lelaki itu cuma tersenyum. “Cieee.. patah hati niyee..” ledekku. “Makan-makan, dong..”
“Hamatamu!” Abang tergelak. “Ada gitu orang patah hati dimintain makan-makan?”
“Tuh kan. Berarti bener, kan? Abang patah hati, kan? Yeeee...”
“Kamu stres ya, Ran?”
“Hahaha..”
“Huss! Jangan keras-keras! Ini ditempat umum!”
Aku tak perduli. Terus saja ketawa. Sumpah, ini lucu. “Hahahaha...hbbbb..” Tiba-tiba tangan Abang yang kekar membungkam mulutku. Dan... “AAWWW!!” beberapa detik kemudian dia menjerit keras. Sukurin, telapak tangannya aku gigit! Hihihi.
Wajah lelaki itu merengut dan menatapku tajam pura-pura marah. Iya, aku tau itu cuma pura-pura. Aku nyengir. Oke, kembali serius.
“Abang pasti sangat mencintai Riska.” kataku. “Kenapa putus sih, Bang?”
“Ya, karena udah ngga nyambung..” jawabnya ngehe.
“Idih. Serius nih. Keliatannya Abang masih cinta. Kenapa ga balikan aja?”
“Ga bisa.”
“Kenapa?”
“Dia sudah dengan laki-laki lain. Dan bahagia...” kali ini suara Abang terdengar lirih dan bergetar. Aku jadi kasihan. Abang pasti sangat terpukul. Dan hanya perempuan yang luar biasa yang mampu membuat Abang jadi begini. Ah, aku jadi penasaran dengan Riska. Aku tidak mengenal Riska. Hanya dengar cerita tentangnya dari Abang. Pernah sekali Abang nunjukin fotonya dan menurutku, Riska cantik.
“Ya, gue sangat mencintainya. Gue belum pernah jatuh cinta seperti ini. Dan mungkin gue emang patah hati. Tapi bukan karena itu gue mutusin untuk tidah menikah.”
“Lalu apa?”
“Kalo gue mutusin untuk tidak menikah itu karena gue ingin menghayati sepenuhnya takdir gue..”
“Takdir, Bang? Takdir apaan?”
Diam sejenak. Lalu Abang berkata. “Lu tau kan selama ini perjalanan hidup gue? Orang-orang yang gue cintai semua ga ada yang bisa gue miliki. Diawali oleh orang tua kita yang pisah. Lu ikut Ayah dan Ibu ikut suami barunya dan sekarang entah dimana. Terus gue terpaksa pergi dari rumah terpisah dengan kalian semua. Oke, kita masih bisa ketemu seperti ini. Tapi apa bisa kita kumpul bareng lagi seperti waktu orang tua kita belum bercerai?”
“Terus gue nikah. Dan lu inget, berapa umur pernikahan gue? Dua tahun, Ran. Cuma dua tahun!” Abang mengacungkan jarinya seperti lagi kampanye Keluarga Berencana.
“Dan yang lebih bangsat, bahkan gue ga bisa bareng sama anak gue!” suara Abang makin bergetar. “Ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan anak? Ga ada! Ga ada, Ran!” tiba-tiba tenggorokanku terasa kering. Aku habiskan sekaligus coklat hangat yang tinggal seperempat gelas.
“Akhirnya gue ketemu Riska. Gue jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Tapi akhirnya? Tetep aja akhirnya gue harus sendiri dan kesepian. Ini takdir gue, Ran..”
“Tapi, Bang.. bukannya setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan? Itu janji Tuhan kan, Bang?”
“Iya. Dan pasangan gue adalah kesepian,”
“Abang kesepian?” Aku agak heran mendengar ini. Setahuku Abang selalu dikelilingi oleh perempuan-perempuan. Teman cowoknya juga banyak. Dia ga pernah keliatan sedih. Dimanapun ada Abang, suasana pasti rame dan seger. Abang pinter mencairkan suasana. Bahkan temen-temen kuliahku juga banyak yang naksir Abang. Padahal usia Abang udah ga bisa dibilang muda lho. Meski wajah dan penampilannya emang ga keliatan kalo dia nyaris kepala empat.
“Iya. Gue kesepian. Sangat kesepian.” Jawab Abang. “Tapi inilah pasangan gue. Dan gue musti menikmatinya. Gue imani takdir gue.”
Aku mendengarkan cerita Abang dengan perasaan campur aduk. Baru kali ini aku merasakan Abang benar-benar tertohok hatinya.  Ini belum pernah aku lihat dari Abang selama ini. Dia pasti sangat mencintai Riska.
“Abang cinta banget sama Riska ya?” aku memajukan kursi dan menggenggam tangan laki-laki dihadapanku. Beberapa pasang mata melirik ke arah kami. Mereka mungkin berfikir kami adalah sepasang kekasih. Ah, persetan mereka. Dan sejenak kemudian kulihat kepala Abang mengangguk pelan dengan senyum tipis dibibirnya. Matanya berbinar.
“Sangat.” Jawabnya. “Dan dia berhak untuk bahagia. Dan gue harus bisa terima jika bahagianya itu bukan gue.”
“Abang yakin Riska bahagia?”
“Setidaknya dia sudah memilih.”
“Abang ikhlas?”
“Ikhlas itu bukan untuk diucapkan. Menghayati kesendirian adalah sebenar-benarnya imanku atas takdir mencintainya.”
Ah, Abang. Laki-laki ini memang unik. Banyak yang bilang ia menyebalkan. Termasuk aku juga kadang dibuatnya sebel. Sering malah. Tapi dibalik itu dia laki-laki yang lembut dan baik. Dan pesonanya itu... hahaha, pantas saja teman-teman kuliahku banyak yang kepincut sama dia.
Aku beranjak dari tempat dudukku. Kepeluk dia. Dan senja ini aku menghabiskan banyak waktu dengannya, Abangku. (@botolorson /purwokerto, 26 April 2014)







Jumat, 24 Januari 2014

MENJADI TUA ITU KEREN

Ini adalah tulisan yang sama sekali tidak penting. Yang akan saya tulis ini pun tidak jelas tentang apa. Ini sekedar pengalihan perhatian saya yang agak kecewa tidak bisa nonton Indonesia Idol karena di saluran Big TV tak ada chanel MNC Grup. Dan daripada saya hanya melototi fesbuk yang isinya status G3PG, Galau Galau Ga Penting Gitu, atau ngetwit garing yang malah bikin folower berkurang, ya sudah saya nulis di blog saja.
Sempat agak kesulitan waktu tadi mau masuk ke blog sendiri karena saya lupa paswed-nya. Tapi dengan kegigihan yang sedikit drama, akhirnya saya bisa masuk kembali ke blog yang terakhir saya kunjungi tahun lalu ini.
Pertanyaan yang sempat muncul adalah, kenapa saya bisa lupa paswed? Yang kemudian saya buru-buru menjawabnya sendiri, karena kamu sudah tua, Jo! Okefaen, tua!
Ya ternyata saya sudah tua. Padahal rasanya baru kemarin dan bahkan saya masih ingat bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Pada tetangga ujung gang anak guru bahasa Inggris. Namanya Wiwin. Gadis manja yang diusianya yang masih belia tapi sudah menyadari daya tariknya jadi lebih sering bertingkah songong dan sengak. Oke, deskripsi barusan memang sangat subyektif karena Wiwin tak pernah mau menerima cinta saya.
Ya, pada akhirnya semua orang memang akan menjadi tua. Kecuali ia mati muda. Dan itulah sebabnya, menurut saya menjadi tua itu adalah keren! Yang tidak keren itu adalah ketika menjadi tua dan masih tetap jomblo. Itu mengenaskan, saudara.
Dan karena menjadi tua adalah keren, makanya saya dengan senang hati mengaku bahwa saya memang sudah tua. Meskipun, jujur saja, saya lebih suka dibilang ganteng daripada tua.
Tapi ternyata tidak banyak orang yang menyadari bahwa menjadi tua itu keren. Buktinya, banyak yang tidak pernah mau mengakui berapa umur yang sebenarnya. Bahkan di jejaring sosial macam fesbuk, 80% hanya mengisi tanggal dan bulan kelahirannya saja. Itu pun karena biar ada yg ngucapin selamat saat dia berulang tahun.
Bicara soal umur, tidak ada yang lebih ribet daripada ibu-ibu paruh baya. Mereka, ibu-ibu paruh baya, kadang saya menyebutnya dengan IIS - Ibu Ibu Seger - meskipun ada juga yang sudah tidak seger lagi atau diseger-segerin, setiap kali ditanya umurnya berapa, mereka jawabnya malah kasih kuis.
"Ibu umurnya berapa ya sekarang?"
"Hayo coba tebak, umur ibu berapa? Hayooo.."
Menyebalkan? Memang. Tapi ya begitulah mereka. Karena buat mereka ada dua hal yang paling bikin ribet: 1. Berat badan, 2. Umur!
Makanya, harus ada trik-nya saat kita ingin tau berapa usia mereka.
"Duh, Ibu keliatan cantik sekali ya hari ini..."
"Masa sih, Mas? Ibu udah tua lho, udah 42, masa masih dibilang cantik. Mas ini bisa aja deh..hikhikhik."
Dan, tararam... tanpa kita tanya, mereka akan mengaku sendiri sudah tua dan menyebutkan usianya. Meski kadang ada juga yang masih sempat memanipulasi dengan 'menuakan' dirinya sendiri saat dipuji masih cantik.
Tapi masih mending lah. Setidaknya mereka tidak menjawab pertanyaan dengan kuis.
*melirik ke pojok kanan bawah layar monitor*
Astaga, sudah 23:50. Pantesan mata udah kaya diganduli tronton rasanya. Berat.
Yah, dengan tidak mengurangi rasa hormat, tulisan saya kali ini terpaksa saya bikin berseri. Atau yang pengin tau alasan kenapa saya menyebut menjadi tua adalah keren, silahkan datang di SAPAWANI #3, Sabtu tanggal 25 Januari 2014 di Pendopo Kecamatan Cilacap Utara mulai jam 7 malam sampai selesai. Saya akan perform Stand Up Comedy disana dan salah satu bit-nya adalah tentang MENJADI TUA ITU KEREN. Selain tentunya beberapa bit saya tentang kondisi di Cilacap saat ini.
'Hoaaaaammm..'
Baiklah teman-teman, sampai ketemu besok di SAPAWANI #3 ya. Yang punya pacar, silahkan bawa pacar. Yang ga punya pacar, silahkan bawa rantang.
Wataaaww! (@botolOrson)

Kamis, 05 Desember 2013

TEBING

     Sesampainya aku dipinggir tebing, aku sempat melirik kebawah. Mencoba tetap menjaga keseimbangan agar tak terpeleset. Kugenggam tanganmu erat. Senyummu menguatkanku dan seolah berkata, "Aku percaya kamu bisa karena kamu memang bisa."
     Namun tak urung tubuhku bergetar. Bukan, bukan karena aku takut ketinggian. Tapi karena tiba-tiba mataku kabur saat tak sengaja aku melirik kebawah. Dan bayangan itu kembali berkelana dibenakku. Aku melihat diriku yang terpelanting, menghantam batu terjal dan mengkoyak-koyakku hingga ketulang sumsum. Sakit. Sakit sekali.
Tapi aku tidak mati. Aku masih merasakan tubuhku utuh. Hanya tulang rusukku yang patah dan darah ada dimana-mana. Aku mencoba berdiri dengan penuh luka. Dan semua luka itu berkumpul dalam satu rasa. Seperti ribuan jarum yang bergerak menyelusup dalam setiap mili pori-pori. Aku tersengal muntah darah. Baunya sangat busuk dan kembali membuatku mual. Lalu aku muntah lagi. Lagi dan lagi.
     Tapi aku masih hidup. Aku masih bisa merasakan kehilangan tulang rusukku.
Dalam kesakitan aku mengutuk pada tebing yang membuatku terpelanting. Pada jembatan rapuh yang harus kulalui. Pada tangan-tangan yang mendorongku.
Dan aku mengutuk Tuhan. Mengapa aku tidak mati saja?
Lalu apa gunanya aku jika sudah begini? Dengan luka parah dan tulang rusuk yang hilang. Didasar tebing yang, ah aku baru menyadarinya, gelap sekali. Tanpa kusadari, lambat laun aku mulai berubah menjadi batu dasar tebing yang gelap dan keras.
     "Hei, kamu sudah membuatku cukup lama menunggu," suaramu menyadarkanku. Kutatap wajahmu, kau tersenyum manis. Senyum yang telah menyelamatkanku meski separuh tubuhku adalah batu. Dan dengan kesabaran seorang bidadari kau telah memahatnya, membuatku kembali menyerupai manusia. Lalu nafasmu kau hembuskan dijantungku yang kembali berdetak perlahan.
     "Masih tetap mau disini?" tanyamu. Aku hanya diam dan membiarkan aku tenggelam dalam teduh matamu. "Disini bersama masa lalumu. Atau kembali kau lewati tebing itu bersamaku?"
Aku masih terdiam. Aku memang tak ingin berkata-kata. Karena mungkin kata-kata sudah tak lebih penting sekarang ini. Kuraih tanganmu. Kugenggam erat. Lalu kuabaikan semua ketakutanku pada tebing terjal yang pernah membuatku jatuh dan membuatku kehilangan tulang rusukku. Karena kini aku telah kembali menemukan tulang rusukku. Kamu.

Selasa, 28 Mei 2013

SUBSIDI BBM ADALAH HAK RAKYAT

Hari ini saya mengawali dengan biasa. Ngopi sambil buka twitter. Dan ternyata timeline saya ramai dipenuhi oleh berita rencana pemerintah menaikan harga BBM tahun 2013 ini. Penasaran, saya browsing ke website resmi Kementrian Perindustrian Indonesia. Dan, tararam... salah satu berita utamanya adalah: 

2013, Kenaikan BBM Tak Terelakan. 

Berbagai alasan dan 'pembelaan' pemerintah pun dilemparkan sebagai pembenaran 'harus' naiknya harga BBM tahun ini.
Bakal heboh, seperti yang sudah-sudah? Pasti. Lalu saya teringat dengan email yang dikirim oleh sahabat saya, seorang anggota Komisi XI DPRRI dari Partai GERINDRA, Sadar Subagyo. Beliau menulisnya pada medio Maret 2012 yang lalu. Tapi saya rasa pemikirannya masih relevan dengan situasi sekarang. Berikut tulisannya: (twitter: @botolOrson)

Subsidi BBM adalah Hak Rakyat

oleh: Sadar Subagyo, Anggota Komisi XI DPRRI (@sadar_subagyo)

Sejak era orde baru sampai era pasca reformasi, bangsa Indonesia selalu dihadapkan pada masalah klasik, yaitu SUBSIDI BBM. Masalah klasik ini menjadi kian pelik manakala ruang fiskal pemerintah menyempit dan terjadi fenomena gejolak harga minyak dunia.  Peristiwa yang rutin terjadi tetapi bangsa Indonesia selalu heboh bahkan cenderung panik menghadapinya. Gejolak harga minyak adalah yang  biasa, yang luar biasa adalah selama ini tidak pernah mencari solusi yang optimal dan permanen.  Alih-alih mencari solusi, yang ada hanya kegaduhan rutin. Padahal masalah ini sejatinya sudah dapat diperkirakan jauh hari sebelumnya.
UU No. 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012 mengamanatkan kepada pemerintah untuk melakukan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi per 1 April 2012. Secara lebih rinci, Pasal 7 Ayat (4) UU APBN 2012 menyebutkan bahwa pembatasan konsumsi premium dilakukan pada kendaraan roda empat pribadi di Jawa-Bali. Dengan demikian jelas dan tegas bahwa yang harus dilakukan oleh pemerintah, menurut UU APBN 2012, adalah melakukan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi untuk Jawa dan Bali saja.
Tafsir dan usul atas amanat pembatasan konsumsi BBM bersubsidi kemudian memunculkan berbagai opsi yang justeru misleading dan tidak jelas arah yang hanya membuat rakyat bingung. Ironisnya sikap membuat bingung ini justeru muncul dari pemerintah sendiri. Ada menteri yang mengatakan bahwa mulai 1 April 2012 konsumsi BBM bersubsidi kendaraan pribadi akan dialihkan ke bahan bakan gas atau BBM jenis pertamax. Suara berbeda muncul dari anggota kabinet lainnya yang menyebutkan bahwa asumsi harga minyak mentah di APBN 2012 sebesar US$ 90 per barel sudah tidak sesuai dengan harga riil yang sekarang berkisar US$ 120 per barel, sehingga harga BBM bersubsidi harus dinaikan kalau tidak mau keuangan Negara jebol.
Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 15 Tahun 2012 tentang Harga Jual Eceran dan Konsumen Pengguna Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu tertanggal 7 Februari 2012. Perpres ini menggantikan Perpres No 55 Tahun 2005 yang sudah diubah dengan Perpres No 9 Tahun 2006. Pada Perpres No 15 Tahun 2012 ini, harga minyak tanah ditetapkan sebesar Rp 2.500, bensin Rp 4.500, dan minyak solar Rp 4.500 (sebelumnya Rp 4.300).
Tak ayal ketidaksatusuaran –akibat perencanaan yang kurang baik– dari pemerintah ini kemudian memunculkan kebingungan dan kegaduhan di masyarakat. Kondisi ini akhirnya menggiring opini masyarakat bahwa harga BBM bersubsidi memang layak untuk dinaikkan dan  mengerucut pada dua hal, yaitu pembatasan konsumsi BBM bersubsidi dan kenaikan harga BBM bersubsidi dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter.
Ini tentunya melenceng jauh dari amanat UU APBN 2012 yang hanya mengamanatkan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi. Bahkan pada Pasal 7 ayat (6) secara gamblang menyatakan “ harga eceran BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan”. Deviasi ini hanya akan menyebabkan terjadinya pelanggaran terhadap UU APBN 2012 oleh pemerintah.
Apakah Subsidi BBM Dibutuhkan?
Saat ini jumlah penduduk Indonesia  sudah mencapai 237 juta orang dimana 135 juta orang diantaranya berpenghasilan dibawah Rp 486.000/orang/bulan.  Dari jumlah penghasilan tersebut, 70% pendapatan digunakan untuk makanan dan sekitar 15% untuk energi. Fakta ini menunjukan bahwa porsi untuk energi dalam struktur konsumsi masyarakat cukup signifikan.
Sementara itu, jika BBM bersubsidi dicabut dengan menaikkan harga BBM dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000, BPS memperkirakan akan terjadi inflasi kurang lebih  2,73%. Tetapi inflasi riil yang dirasakan oleh kelompok masyarakat yang berpenghasilan dibawah Rp 486.000/orang/bulan akan mencapai 15%, dimana biaya transportasi langsung naik 30%, makanan naik 10%, dan juga semua sektor langsung naik. Kondisi ini sangat mencekik kelompok masyarakat dengan penghasilan dibawah Rp 486.000/orang/bulan.
BLT yang akan dinaikan menjadi Rp 150.000/KK/bulan selam 9 bulan kepada 17,5 jt KK (sekitar 70 juta jiwa) bisa dipastikan tidak akan banyak menolong. Ada sekitar 65 juta jiwa lagi yang tidak tercover dan hidupnya semakin hari semakin tercekik.
Disparitas pendapatan yang tinggi, jumlah penduduk berpendapatan rendah (kurang dari 1.84 USD/hari, dg kurs 1 usd = rp 8800) yang mencapai 135 juta jiwa, dan potensi dampak kenaikan harga BBM yang secara riil akan menyebabkan inflasi tinggi dikalangan kelompok miskin serta BLT yang bisa dipastikan tidak akan maksimal, maka subsidi BBM merupakan hak rakyat Indonesia. Subsidi BBM merupakan suatu kebutuhan dan keharusan sebagai upaya negara untuk mensejahterakan rakyatnya.
Masalahnya kemudian, berapakah subsidi BBM yang pantas dan berkeadilan? Jika dicermati secara seksama, ada hal yang sangat ironis dalam pengalokasian APBN, yakni belanja birokrasi semakin tahun semakin membengkak. Bahkan dalam kurun waktu 7 tahun (2005-2012) terjadi kenaikan belanja birokrasi hingga 400%, dari Rp 187 Triliun (2005) menjadi Rp 733 Triliun (2012). Sebuah angka yang sangat fantastis dan mencengangkan.
Menjadi semakin tercengang bila ditilik jumlah aparat birokrasi Indonesia yang hanya 4,6 juta aparat. Artinya setiap satu orang aparat birokrasi mendapatkan porsi belanja dari APBN sebesar lebih dari Rp 150 juta per tahun.
Bandingkan dengan nilai subsidi BBM yang dialokasikan dalam APBN yang dari 2005 hingga 2012 hanya naik 29% saja. Pada 2005 alokasi APBN untuk subsidi BBM adalah Rp 95,6 triliun dan menjadi Rp 123,6 triliun pada 2012. Ketimpangan antara belanja birokrasi dengan subsidi BBM sangat kentara sekali dan nilai subsidi BBM relatif tidak seberapa tinimbang belanja birokrasi, hanya 1/6 (17%) dari total belanja birokrasi 2012.
Pertanyaannya kemudian, pantas dan adilkah jika subsidi BBM yang dirasakan oleh ratusan juta rakyat dan dengan nilai yang juga tidak terlalu besar dihapus sementara belanja birokrasi terus membengkak? Apakah subsidi BBM ini memang satu-satunya momok menakutkan yang harus diamputasi agar APBN sehat? Tidakkah penghematan belanja birokrasi juga akan berdampak signifikan, apalagi dengan memperhatikan daya serap anggaran dari birokrasi yang hanya mencapai rata-rata 94% saja.
Salah satu langkah bijak untuk memenuhi rasa keadilan dan kepantasan adalah dengan mengalokasikan minimum setara 17% dari belanja birokrasi untuk subsidi BBM dalam APBN.(sesuai alokasi APBN 2012) Patokan 17% dari belanja birokrasi ini juga ditujukan untuk mengontrol laju belanja birokrasi yang tidak efisien. Dan akselerasi subsidi BBM yang pantas dan berkeadilan dapat mulai diterapkan dalam APBN 2012.

Tidak Perlu Cabut Subidi BBM
Bila ditilik secara cermat dan seksama, sejatinya tidak ada alasan bagi Pemerintah untuk mencabut subsidi dan menaikkan harga BBM bersubsidi. Merujuk pada UU tentang APBN 2012 maka jika pemerintah bersikukuh untuk mencabut subsidi dan menaikkan harga BBM bersubsidi maka langkah tersebut merupakan langkah inkonstitusional yang melanggar  UU No 22/2011 tentang APBN 2012 Pasal 7 ayat (6).
Selain itu, mencabut subsidi BBM dan menaikkan BBM bersubsidi secara signifikan merupakan langkah menyengsarakan rakyat yang jauh dari prinsip kemanusiaan dan keadilan. Minimal ada 135 juta rakyat Indonesia yang  akan tercekik oleh inflasi riil yang mencapai 15%. Sementara BLT sebesar Rp 150.000/bulan/KK hanya menjangkau 70 juta penduduk saja, masih ada 65 juta penduduk yang setiap harinya tercekik nyaris tak bisa bernafas.
Selanjutnya, mencabut subsidi BBM dan menaikkan harga BBM bersubsidi terutama dengan memperhatikan jumlah belanja birokrasi, sangat bertentangan dengan rasa keadilan. Belanja birokrasi yang sejak 2005 hingga 2012 naik sampai 400%  (dari Rp187 triliun ke  Rp 733 triliun) sementara subsidi BBM dalam APBN pada periode yang sama hanya naik 29% (dari 95 trilliun ke 123.6 trilliun). Padahal subsidi BBM dirasakan oleh ratusan juta rakyat Indonesia, termasuk birokrasi.
Dan kalaupun alokasi subsidi tidak mencukupi, sejatinya masih dapat ditutup dengan efisiensi belanja birokrasi  yang daya serapnya  rata-rata 94%. Dengan demikian, masih ada bantalan fiskal sebesar 6% dari APBN yang totalnya Rp 1.435  triliun atau setara Rp 86,1 triliun. Efisiensi dari belanja birokrasi sebesar 6% ini sangat mencukupi karena dengan opsi menaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 1.500 hanya menghasilkan tambahan alokasi sebesar Rp 60 triliun, masih ada sisa Rp 26 triliun lebih.
Sekali lagi, dari hal-hal tersebut secara jelas tidak ada satupun alasan yang mendukung dicabutnya subsidi BBM dan menaikkan harga BBM bersubsidi. Namun demikian, secara faktual juga harus disadari bahwa selama ini telah terjadi inefisiensi dalam penyaluran subsidi BBM. Sebagai gambaran untuk tahun 2011 misalnya, Pemerintah menyatakan bahwa  53% n pemakai BBM bersubsidi adalah mobil pribadi, 40% kendaraan roda dua, dan 7% angkutan umum serta barang. Hal ini berarti subsidi BBM selama ini yg tepat ke sasaran hanya 7%. 
Tidak tepat sasarannya subsidi BBM ini lebih disebabkan oleh cara pandang dan pilihan cara menyalurkan subsidi. Selama ini subsidi didefinikan sebagai biaya yang diberikan negara kepada produsen agar harga produknya terjangkau oleh masyarakat. Subsidi ini dikenal juga dengan istilah subsidi tidak langsung. Kelemahan mendasar dari model subsidi tidak langsung adalah siapapun yang membeli produk yang disubsidi oleh pemerintah akan menerima subsidi. Subsidi seharusnya bukan pada barang tetapi sektor, dalam hal ini adalah sektor tranportasi umum, baik penumpang maupun barang.
Terkait dengan tidak adanya alasan yang mendukung pencabutan subsidi BBM dan menaikan harga BBM bersubsidi serta ketidaktepatan dalam menyalurkan BBM bersubsidi, maka yang mungkin dan patut dilakukan oleh Pemerintah adalah: menetapkan sejumlah alokasi tertentu misalnya 17% dari total belanja birokrasi (sesuai alokasi di APBN 2012)  untuk subsidi BBM dan ubah sistem subsidi tidak langsung menjadi subsidi langsung.
Implementasinya, dalam kurun waktu 3 tahun pertama subsidi BBM berlangsung seperti biasa sembari membangun sarana dan prasaran transportasi umum yang memadai yang dananya berasal dari pinjaman sebesar 3 kali nilai subsidi BBM. ( Bangun subway, bangun monorel, bangun rel kereta, bangun sistem bis kota yg baru minimal 10.000 bus)  Sembari juga melakukan identifikasi sasaran subsidi dan membangun system subsidi. Tahun ke-4 dan selanjutnya alokasi subsidi yang ada disalurkan secara tepat sasaran, 30% subsidi disalurkan secara langsung (transportasi umum, nelayan, petani, dan kelompok sasaran lainnya) dan 70% alokasi subsidi untuk cicilan membayar utang serta merawat dan membangun sarana transportasi secara berkelanjutan. Dengan ramuan ini diharapkan masalah klasik subsidi BBM akan terurai dengan tetap berprinsip pada kepantasan dan keadilan.
Dengan penerapan formulasi diatas, secara signifikan menyelesaikan masalah BBM bersubsidi secara tepat sasaran, tuntas dan berkeadilan. Selain itu  sarana transportasi umum terbangun dengan baik dan berkualitas dengan harga terjangkau. Keuntungan lainnya, formula ini akan menurunkan biaya subsidi hingga 70% dan menurunkan konsumsi BBM. Dan yang pasti masalah gejolak harga minyak dunia tidak akan lagi membuat pusing kepala dan memunculkan kepanikan tahunan yang berulang.

Kamis, 16 Mei 2013

MENGUAK KOTAK PANDHORA KENAIKAN BBM

Beberapa jam yang lalu saya membaca berita disebuah situs tentang Presiden SBY yang menggelar rapat tertutup guna membahas tentang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Dari informasi yang saya baca, SBY memanggil Wakil Presiden Boediono dan sejumlah Menteri KB II di kediamannya di Cikeas, Bogor. Dan rapat tertutup itu sendiri dimulai pukul 5 sore tadi, Kamis, 16 Mei 2013.
Yang terbersit dalam otak saya saat membaca berita tadi adalah, BBM mau naik lagi. Terus ada demo. Kemudian ada bergaining dan deal-deal politik. BLT. Harga naik. Rakyat banyak yang menjerit. De Javu!
Kenapa sih setiap kebijakan Pemerintah kebanyakan justru ujung-ujungnya membuat rakyat menjerit?
Kemudian saya teringat dengan tulisan salah seorang anggota Komisi XI DPRRI dari Partai Gerindra, Sadar Subagyo, yang pernah saya baca sekitar setahun yang lalu tentang MENGUAK KOTAK PANDHORA KENAIKAN HARGA BBM.
Saya sempat ubek-ubek file email saya. Dan.. tararam, ketemu!
Ini adalah tulisan beliau setahun yang lalu tentang kenaikan harga BBM dan baru saja di kultwitkan lagi di akun twitter @sadar_subagyo. Monggo.. (jojo/ @sonorson )



MENGUAK KOTAK PANDHORA KENAIKAN BBM!

Dalam  pembahasan  RUU  tentang  APBN  2012,  khususnya  tentang  BBM  bersubsidi, pemerintah  mengusulkan   2  opsi  yaitu:  menaikan  harga  BBM  bersubsidi    atau membatasi dan mengendalikan volume BBM bersubsidi. Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya disepakati opsi ke-2 yaitu; membatasi dan mengendalikan volume BBM bersubsidi mulai 1 April 2012 serta tidak menaikkan harga.

Kesepakatan terkait pilihan opsi 2 tersebut kemudian dituangkan dan ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012. Pada pasal 7 ayat (6) UU APBN 2012 tegas menyebutkan: Harga jual eceran BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan.

Dalam  perjalanannya,  ketika  UU  APBN  2012  baru  2  bulan  (JanuariƐPebruari) diimplementaskan,  sekonyong-konyong  pemerintah  mengusulkan  agar  harga  BBM bersubsidi dinaikkan. Pertanyaannya, apakah dalam kurun waktu 2 bulan Pemerintah sudah menyerah dan tidak bisa melakukan pembatasan serta pengendalian volume BBM bersubsidi?

Bila yang disoal adalah gejolak harga minyak dunia dan krisis utang di Eropa, adalah tidak masuk akal. Dalam penyusunan APBN 2012, secara cermat gejolak harga minyak mentah dunia dan juga ketegangan di Timur Tengah sudah diperhitungkan. Begitu juga soal krisis utang di Eropa, diperhitungkan sebagai faktor dalam penyusunan APBN 2012. Dan  proses  penghitungan  secara  cermat  atas  gejolak  harga  minyak  (termasuk ketegangan di Timur Tengah) dan Krisis Utang Eropa ini melibatkan Pemerintah dan DPR dalam perdebatan Badan Anggaran.

Soal pertumbuhan perekonomian global pada 2012 yang diprediksi melambat adalah sebuah fakta tak terbantahkan. Dan hal ini juga pasti diperhitungkan dalam proses penyusunan APBN 2012. Yang pasti melambatnya perekonomian global masih jauh dari hantu krisis ekonomi dunia. Dengan demikian, sejatinya alasan dan kilah gejolak harga minyak dunia, krisis utang eropa, dan melambatnya perekonomian dunia gugur sebagaialasan yang masuk akal.

Lantas apa yang menyebabkan Pemerintah begitu ngotot ingin menaikkan harga BBM bersubsidi? Bahkan Presiden SBY secara jelas dan tegas pernah mengatakan: Tidak ada pemerintah  yang  mau  menyengsarakan  rakyatnya,  tidak  ada  presiden  yg  mau menyengsarakan rakyatnya. Patus diduga dan dapat dipastikan ada faktor pendorong yang luar biasa kuat yang memaksa pemerintah ngotot ingin menaikan harga BBM bersubsidi.  Dan  ini  menjadi  misteri  yang  harus  dikuak  dan  jelas  terangkan  kepada publik.

Kotak Pandhora!
Pada dasarnya usulan APBN Perubahan 2012 dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu:
1.   Pertama merubah asumsi makro, yaitu harga ICP dari US$90  menjadi US$105,
 lifting minyak dari 950 ribu barel/hari menjadi 930 ribu barel/hari, dan nilai tukar
 rupiah dari US$ 1 setara Rp 8.800 menjadi Rp 9.000,-.
2. Kedua adalah menaikan harga BBM bersubsidi dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000,-

Dari sekian banyak perubahan angka-angka dalam usulan APBN Perubahan 2012 yang sangat menarik untuk dicermati adalah besaran subsidi listrik. Pada APBN 2012 subsidi listrik ditetapkan sebesar Rp 45 triliun, turun signifikan dari subsidi listrik APBN 2011 yang mencapai Rp 65,6 triliun. Namun dalam usulan APBN Perubahan 2012 subsidi listrik diusulkan naik secara luar biasa dari Rp 45 trilliun menjadi Rp 93 trilliun ataulebih dari 100%.


Disisi  lain,  pemakaian  solar  oleh  PLN  pada  2012  mengalami  penurunan  konsumsi hingga mencapai 50%, dari 4,7 juta kilo liter (2011) menjadi 2,3 juta kilo liter (2012). Konsumsi batu bara memang mengalami kenaikan sekitar 11 juta ton pada tahun 2012 ini.
Konsumsi solar mengalami pengurangan signifikan hingga 50% disatu sisi sementara disisi  lain  subsidi  listrik  justru  diusulkan  naik  hingga  diatas  100%,  memunculkan keanehan dan pertanyaan yang menggelitik: koq bisa begitu, ada apa?

Untuk menjawah pertanyaan serta menyibak keanehan tersebut memaksa kita melihat lebih dalam lagi kondisi produsen listrik nasional yang penjualannya dimonopoli oleh PLN.  Setelah  ditelisik  secara  cermat  dan  hati-hati  ternyata  selama  ini  ada  borok membusuk di proses penyediaan listrik yang selama ini  tersembunyikan. Salah satu cara mengukur tingkat kesehatan perusahaan adalah dengan melihat Debt Service Coverage Ratio  (DSCR),  yaitu  perbandingan  antara  pendapatan  bersih  perusahaan  dengan kewajibannya  membayar  utang.  Perusahaan  dikatakan  sehat  apabila  minimal  DSCR sekitar 3.

Dilihat dari DSCR, sejatinya saat ini PLN dalam keadaan darurat, jika tidak ditolong maka DSCR PLN akan negatif dan ini berarti PLN jebol dan bangkrut. Bukan APBN yang jebol. Disini pula jawaban pertanyaan dan keanehan berada,  jika subsidi ke PLN tahun ini hanya Rp 45 triliun (sesuai APBN 2012), maka PLN akan tekor hingga Rp 35,72 trilliun, yang terdiri dari net income minus 17,25 trilliun dan kewajiban membayar hutang sebesar 18.47 trilliun. Karenanya, Pemerintah menjadi mau tidak mau dan suka tidak suka subsidi listrik harus ditambah minimal naik dari Rp 45 trilliun menjadi Rp 88 trilliun sehingga DSCR PLN menjadi positif, meskipun masih jauh dibawah minimum DSCR yang sehat yaitu sekitar 3. Karena keadaan darurat maka cara yang ditempuh adalah cara darurat termudah, yakni mengurangi subsidi BBM, yang sekalian memenuhi tuntutan IMF yaitu mengurangi subsidi BBM.

Masih Ada Jalan Menuju Roma
Sekarang menjadi sangat masuk akal jika pemerintah ngotot merubah asumsi makro serta menaikan harga BBM bersubsidi sebesar   Rp 1.500,- karena perubahan asumsi makro akan menambah pemasukan sebesar Rp 47 trilliun dan penaikan harga BBM bersubsidi akan menambah pemasukan Rp 60 trilliun sehingga total penerimaan akanbertambah Rp 107 trilliun!

Penambahan penerimaan dari hasil penaikan BBM ini kemudian akan digunakan untuk:
1.      Menambah subsidi listrik (menyelamatkan PLN) sebesar Rp 43 trilliun,                    
2.      Pemberian BLT Rp 30,6 trilliun    !
3.      Tambahan subsidi BBM Rp 13.8 trilliun  
4.         Sisanya sebesar Rp 19,6 trilliun digunakan untuk tambahan belanja infrastruktur
dan pendidikan.
Dari  urutan  besarnya  penggunaan  tambahan  penerimaan  hasil  dari  penaikan  BBM sangat  jelas  terlihat  bahwa  paling  besar  adalah  untuk  menolong  PLN  sedangkan pembengkakan subsidi BBM yang selama ini digembar-gemborkan sebagai biang kerok penghambat pembangunan ada pada urutan bontot.

Hal ini tentunya sangat mengusik rasa keadilan, Mengapa kesalahan perhitungan PLN dibebankan ke rakyat? Dan mengapa pemerintah terkesan menutupi permasalahan ini? Pertanyaan  mendasar  lain  yang  mengusik  rasa  keadilan  adalah  Mengapa  berdalih subsidi  BBM  membengkak?  Padahal  yang  sesungguhnya  terjadi  adalah  operasi penyelamatan PLN serta pembenaran untuk pemberian BLT.

Ada banyak cara untuk menyelamatkan PLN tanpa harus membebani dan menambah kesengsaraan rakyat. Salah satunya adalah menaikan harga listrik (TDL) sebesar 10%  yang akan menambah penerimaan sekitar Rp 9 trilliun. Penaikan harga listrik dampak negatifnya jauh lebih kecil dibandingkan kenaikan harga BBM dan akan merangsang tumbuhnya pembangkit2 swasta yg mengandalkan renewable energyi.
Tentunya  9  trilliun  masih  jauh  dari  mencukupi  karena  sesuai  kesepakatan  terakhir minimal  dibutuhkan  tambahan  subsidi  listrik  sebesar  43  trilliun.  Kekurangan pendanaan dapat ditutup dengan penerbitan obligasi konversi senilai Rp 40 triliun yang dijamin oleh  negara/pemerintah dan wajib dibeli oleh BUMN yg berkemampuan dan Pemerintah Daerah (propinsi/kabupaten/kota) daripada dana pemda ratusan trilliun ngendon di Bank Indonesia dalam bentuk SBI.
Ini mungkin menjadi salah satu alternatif solusi yang lebih bijak dan tidak menambah
sengsara rakyat.

Salam NKRI,   2012-03-28!