"Kopi ini terasa lebih pahit," gumamku.
Kulirik lagi dia
melalui ujung mataku lalu kembali kuhirup cangkir yang masih menempel
dibibirku. Benar-benar pahit. Alisku sampai berkerut dan
kukecap-kecapkan lidahku untuk sedikit mengurangi rasa pahitnya.
Kuletakan cangkir yang baru kukecap sedikit isinya itu keatas meja.
"Jangan bilang kamu ga punya gula," candaku.
Lagi-lagi dia hanya tersenyum. "Aku sengaja," katanya singkat dalam senyumannya.
"Sengaja ingin membunuhku?"
Dia
terkekeh. Aku ikut tertawa. Bahagia rasanya melihat dia tertawa seperti
itu. Dan tiba-tiba dia meraih tanganku dan digenggamnya erat.
"Aku
mencintaimu..." suaranya nyaris tak terdengar. Dan bibirku bereaksi
spontan mengeluarkan kata-kata klise. "Aku juga.." kubalas genggamannya.
Kutatap
matanya. Mata yang selalu membuatku tak berdaya. Yang seperti
menghipnotisku untuk masuk dan menguak segala rahasia didalamnya. Mata
yang bulat dengan alis tebal teratur. Yang bisa memancarkan kelembutan
dan ketegasan dalam waktu yang bersamaan.
"Aku sengaja membuat kopi pahit untukmu, Abi. Tanpa gula sama sekali.."
"Untuk merayakan satu tahun kebersamaan kita?" potongku.
Ya,
hari ini adalah genap satu tahun kami menjalani hari-hari penuh
kebersamaan. Dan selama satu tahun pula aku merasakan yang belum pernah
aku rasakan dengan kekasih-kekasihku yang lain sebelumnya.
Kedekatan
kami berawal disebuah TOT tentang kepedulian penanggulangan HIV/ Aids.
Saat itu ia menjadi trainer dan aku salah satu peserta dari sebuah LSM. Dan saat acara usai, dengan alasan satu arah, aku menawarinya untuk mengantarkannya pulang.
Sepanjang perjalanan kami ngobrol akrab
dilanjutkan saling sms, curhat lewat telpon dan akhirnya kami sepakat
untuk menjadi sepasang kekasih. Klise dan sangat standar.
Aku tidak berusaha menyembunyikan hubungan kami. Tapi tidak
juga memperlihatkannya secara mencolok. Kami menjalani semua dengan
hati. Dan yang paling penting adalah aku merasa sangat nyaman
bersamanya. Bukannya mau membandingkan, tapi aku tidak pernah senyaman
ini saat aku menjalin hubungan dengan Dewi, Winda, Ine atau
perempuan-perempuan lainnya.
"Aku membuatkanmu kopi pahit agar kau terbiasa.." suaranya mengagetkanku. Tangannya masih menggenggam tanganku.
"Terbiasa dengan apa?"
"Dengan semua yang pahit."
Aku
masih belum mengerti maksudnya. Tapi perasaanku mengatakan, ini serius.
Aku mengenalnya. Sangat mengenalnya. Dia jarang bicara kecuali untuk
hal-hal yang penting. Dan ketika dia mulai puitis, berarti pasti ada
yang serius.
Kutatap matanya. Mencoba mencari penjelasan didalamnya. Tapi seperti biasa aku justru tenggelam.
"Jangan menatapku seperti itu.." dia mencoba mengalihkan pandangannya ketempat lain.
"Ada apa sebenarnya?"
Dia menghela nafas. Bisa kurasakan sesak dadanya dari hembusannya yang sempat tersendat. Dan tiba-tiba akupun merasa nafasku menjadi berat.
"Aku sangat mencintaimu." katanya kemudian.
"Aku bisa merasakannya..Lalu?" aku kembali mencari jawaban didalam matanya.
"Kamu adalah hal terindah dalam hidupku.."
"Aku tahu itu."
"Aku
bahagia saat bersamamu. Aku nyaman. Aku menemukan diriku pada setiap
nafasmu. Pada setiap debar dadamu. Pada lembut bibirmu..." kata-katanya sempat terhenti.
Ini pasti ada yang tidak beres, pikirku. Aku hendak menyela. Tapi sejenak kuputuskan untuk membiarkannya berbicara.
"Tapi aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini," lanjutnya.
Hmm... jadi ini yang ingin dia katakan? Tapi...
"Apa?!" tak urung aku terhenyak. "Maksudmu?"
"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, Abi."
Aku
butuh waktu untuk mencerna dan menerima kata-katanya. Lalu, "Kenapa?"
tanyaku putus asa. Suaruku begitu pelan, nyaris aku sendiri yang
mendengarnya. Tapi rupanya dia mendengar pertanyaanku.
"Abi.."
kudengar suaranya. Tangannya kembali menggenggam tanganku yang tadi
sempat terlepas. Masih terasa hangat. Tapi beda. "Dari awal kita tau,
semestinya kita tidak menjalani ini..."
"Tapi kita saling mencintai.." kali ini aku memotong kalimatnya.
"Aku tahu. Tapi ini tidak semestinya.."
"Apa aku salah mencintaimu?"
Tidak pernah ada yang salah dengan cinta.."
"Kenapa dulu..."
"Karena
kau begitu mempesonaku.."kali ini dia yang memotong kalimatku. "Kau
membuatku tidak berdaya. Kau membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Aku
bahagia bersamamu. Kau terlalu sempurna untukku..."
Aku menatap matanya. Dan kembali dia menghindari tatapan mataku.
"Kita salah, Abi. Ini yang terbaik untuk kita..."
Tapi
aku tidak puas dengan penjelasannya. "Someone else?" tanyaku tajam to
the point. Dan sesuatu yang tidak aku harapkan terjadi. Dia mengangguk.
"Siapa dia?" aku mendengar suaraku bergetar.
"Yolanda.." kudengar suaranya pelan. "Aku akan menikahinya bulan depan..."
Dan
kata-kata berikutnya sudah tidak penting lagi karena semua seperti
menguap begitu saja. Aku kembali mengecap-ngecapkan lidahku mencari
sisa-sisa rasa pahit kopi yang tadi aku minum. Kopi terakhir yang dibuat
oleh Bram, kekasih sejenisku.
Dan hari-hari berikutnya setiap kopi yang aku minum jadi terasa lebih pahit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar