Kamis, 22 November 2012

KOPI INI TERASA LEBIH PAHIT

"Kopi ini terasa lebih pahit," gumamku.

Kulirik lagi dia melalui ujung mataku lalu kembali kuhirup cangkir yang masih menempel dibibirku. Benar-benar pahit. Alisku sampai berkerut dan kukecap-kecapkan lidahku untuk sedikit mengurangi rasa pahitnya. Kuletakan cangkir yang baru kukecap sedikit isinya itu keatas meja. "Jangan bilang kamu ga punya gula," candaku.
Lagi-lagi dia hanya tersenyum. "Aku sengaja," katanya singkat dalam senyumannya.
"Sengaja ingin membunuhku?"
Dia terkekeh. Aku ikut tertawa. Bahagia rasanya melihat dia tertawa seperti itu. Dan tiba-tiba dia meraih tanganku dan digenggamnya erat.
"Aku mencintaimu..." suaranya nyaris tak terdengar. Dan bibirku bereaksi spontan mengeluarkan kata-kata klise. "Aku juga.." kubalas genggamannya.
Kutatap matanya. Mata yang selalu membuatku tak berdaya. Yang seperti menghipnotisku untuk masuk dan menguak segala rahasia didalamnya. Mata yang bulat dengan alis tebal teratur. Yang bisa memancarkan kelembutan dan ketegasan dalam waktu yang bersamaan.
"Aku sengaja membuat kopi pahit untukmu, Abi. Tanpa gula sama sekali.."
"Untuk merayakan satu tahun kebersamaan kita?" potongku.
Ya, hari ini adalah genap satu tahun kami menjalani hari-hari penuh kebersamaan. Dan selama satu tahun pula aku merasakan yang belum pernah aku rasakan dengan kekasih-kekasihku yang lain sebelumnya.
Kedekatan kami berawal disebuah TOT tentang kepedulian penanggulangan HIV/ Aids. Saat itu ia menjadi trainer dan aku salah satu peserta dari sebuah LSM. Dan saat acara usai, dengan alasan satu arah, aku menawarinya untuk mengantarkannya pulang.
Sepanjang perjalanan kami ngobrol akrab dilanjutkan saling sms, curhat lewat telpon dan akhirnya kami sepakat untuk menjadi sepasang kekasih. Klise dan sangat standar.

Aku tidak berusaha menyembunyikan hubungan kami. Tapi tidak juga memperlihatkannya secara mencolok. Kami menjalani semua dengan hati. Dan yang paling penting adalah aku merasa sangat nyaman bersamanya. Bukannya mau membandingkan, tapi aku tidak pernah senyaman ini saat aku menjalin hubungan dengan Dewi, Winda, Ine atau perempuan-perempuan lainnya.
"Aku membuatkanmu kopi pahit agar kau terbiasa.." suaranya mengagetkanku. Tangannya masih menggenggam tanganku.
"Terbiasa dengan apa?"
"Dengan semua yang pahit."
Aku masih belum mengerti maksudnya. Tapi perasaanku mengatakan, ini serius. Aku mengenalnya. Sangat mengenalnya. Dia jarang bicara kecuali untuk hal-hal yang penting. Dan ketika dia mulai puitis, berarti pasti ada yang serius.
Kutatap matanya. Mencoba mencari penjelasan didalamnya. Tapi seperti biasa aku justru tenggelam.
"Jangan menatapku seperti itu.." dia mencoba mengalihkan pandangannya ketempat lain.
"Ada apa sebenarnya?"
Dia menghela nafas. Bisa kurasakan sesak dadanya dari hembusannya yang sempat tersendat. Dan tiba-tiba akupun merasa nafasku menjadi berat.
"Aku sangat mencintaimu." katanya kemudian.
"Aku bisa merasakannya..Lalu?" aku kembali mencari jawaban didalam matanya.
"Kamu adalah hal terindah dalam hidupku.."
"Aku tahu itu."
"Aku bahagia saat bersamamu. Aku nyaman. Aku menemukan diriku pada setiap nafasmu. Pada setiap debar dadamu. Pada lembut bibirmu..." kata-katanya sempat terhenti.
Ini pasti ada yang tidak beres, pikirku. Aku hendak menyela. Tapi sejenak kuputuskan untuk membiarkannya berbicara.

"Tapi aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini," lanjutnya.
Hmm... jadi ini yang ingin dia katakan? Tapi...
"Apa?!" tak urung aku terhenyak. "Maksudmu?"
"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, Abi."
Aku butuh waktu untuk mencerna dan menerima kata-katanya. Lalu, "Kenapa?" tanyaku putus asa. Suaruku begitu pelan, nyaris aku sendiri yang mendengarnya. Tapi rupanya dia mendengar pertanyaanku.
"Abi.." kudengar suaranya. Tangannya kembali menggenggam tanganku yang tadi sempat terlepas. Masih terasa hangat. Tapi beda. "Dari awal kita tau, semestinya kita tidak menjalani ini..."
"Tapi kita saling mencintai.." kali ini aku memotong kalimatnya.
"Aku tahu. Tapi ini tidak semestinya.."
"Apa aku salah mencintaimu?"
Tidak pernah ada yang salah dengan cinta.."
"Kenapa dulu..."
"Karena kau begitu mempesonaku.."kali ini dia yang memotong kalimatku. "Kau membuatku tidak berdaya. Kau membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Aku bahagia bersamamu. Kau terlalu sempurna untukku..."
Aku menatap matanya. Dan kembali dia menghindari tatapan mataku.
"Kita salah, Abi. Ini yang terbaik untuk kita..."
Tapi aku tidak puas dengan penjelasannya. "Someone else?" tanyaku tajam to the point. Dan sesuatu yang tidak aku harapkan terjadi. Dia mengangguk.
"Siapa dia?" aku mendengar suaraku bergetar.
"Yolanda.." kudengar suaranya pelan. "Aku akan menikahinya bulan depan..."
Dan kata-kata berikutnya sudah tidak penting lagi karena semua seperti menguap begitu saja. Aku kembali mengecap-ngecapkan lidahku mencari sisa-sisa rasa pahit kopi yang tadi aku minum. Kopi terakhir yang dibuat oleh Bram, kekasih sejenisku.
Dan hari-hari berikutnya setiap kopi yang aku minum jadi terasa lebih pahit.



Selasa, 20 November 2012

TANAH SEJENGKAL

Malam ini terasa lebih lengang tak seperti biasanya. Dentang dua belas kali telah lewat beberapa menit yang lalu. Gerimis yang turun sejak Isya tadi seperti mewakili langit yang menangis. Lolong anjing kampung tak hentinya bersahutan dengan suara kodok. Mengalunkan symphoni menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Sesuatu telah terjadi malam ini.
Aku terus memperhatikan dua laki-laki itu dari jarak yang aku pikir aman dari jangkauan pandangan mereka. Keduanya nampak berjalan setengah tergesa-gesa dengan beban dipundak menuju area kebun jagung dekat dermaga. Aku terus mengikutinya tanpa suara. Sesaat aku berhenti. Seekor burung hantu yang hinggap diranting pohon nangka sempat mengagetkanku. Matanya yang bulat menatapku tajam lalu tiba-tiba mengepakan sayapnya dan terbang.

"Disini?" itu suara Lek Sapan.
"Sebaiknya agak lebih ketengah lagi," jawab Lek Masum.
Dan ketika langit menjerit dengan didahului mengeluarkan cahayanya, saat itu aku sempat melihat raut tegang di wajah keduanya. Mereka kembali berjalan lebih masuk ketengah.
Ya, aku memang mengenal kedua laki-laki itu. Lek Masum dan Lek Sapan. Mereka sekampung denganku dan warga kampung mengenal mereka sebagai anak buah juragan Arsa.
" Disini." Suara Lek Masum terdengar bergetar.
Mereka berhenti ditempat  datar dekat pohon randu ditengah kebun jagung. Lek Masum mulai mencangkuli tanahnya dengan cangkul yang dibawanya dan Lek Sapan menjatuhkan  begitu saja beban yang sedari tadi dipanngulnya ketanah becek yang tersiram gerimis.
....


"Assalamualaikun... Imam ada, Yu?"
"Walaikum salam.. O, kamu, Sum.. Ada itu nembe selesai Maghriban. Tumben nyari Imam. Ada yang penting?"
Selepas Maghrib tadi mereka berdua mencariku kerumah.
"Ah, ga ada apa-apa kok, Yu.. Cuma rembugan biasa.."
"Imam.." Ibuku memanggil. "Ini ada Lek Masum sama Lek Sapan."
Aku keluar menemui mereka, "Njanur gunung, Lek.. Monggo duduk dulu..."
"Ga usah," Lek Sapan yang menjawab. "Kami cuma disuruh menyampaikan undangan dari juragan Arsa. Malam ini kamu ditunggu dirumah.."
Mendengar nama juragan Arsa, wajah Ibuku langsung berubah. "Lha ada apalagi juragan Arsa ngundang anakku? Kan sudah jelas jawabannya. Anakku ga mau menjual tanahnya. Lagipula itukan tanah peninggalan almarhum bapaknya Imam dan ga bakal dijual meski dibeli berapapun..." nada bicara ibuku mulai tinggi. Aku hanya menghela nafas. Masalah ini lagi, pikirku.
Sudah berapa kali juragan Arsa baik sendiri maupun melalui suruhannya memintaku untuk menjual sepetak tanah yang terletak diujung kampung. Katanya mau dibangun tempat hiburan untuk anak-anak muda kampung. Dan yang disebut hiburan itu adalah musik dengan volume keras, perempuan-perempuan cantik dan minuman-minuman memabokan. Dan berulang kali juga aku menolak tawarannya. Tapi rupanya, bukan juragan Arsa jika mundur begitu saja. Dia tetap merayuku dan ibuku untuk mau menjual tanahnya baik dengan cara halus atau intimidasi. Tapi kamipun tetap bertahan. Meski untuk itu tak jarang kami mendapat teror dan ancaman-ancaman.
"Lek," kataku kemudian. "Kalo juragan Arsa mengundang saya untuk membahas soal tanah peninggalan bapak, sampaikan padanya, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya menolaknya.."
"Oh, tidak, Mam..." Lek Masum cepat memotong. "Menurut juragan Arsa, dia cuma mau ngundang kamu untuk ngobrol-ngobrol saja. Tidak ada hubungannya sama tanahmu.."
"Iya. Betul itu, Mam.." Lek Sapan ikut menimpali.

Aku menatap wajah ibuku. Dan aku bisa membaca rona kekhawatiran dikerutnya.
"Baiklah.. Insya Allah saya akan datang ba'da Isya nanti."
"Mam.." ibuku mencengkeram kuat lenganku.
"Ga papa, Bu.." kugenggam lembut tangannya. "Tidak baik menolak undangan seseorang. Kita tidak bisa untuk selalu bershu'udzon bukan?"
"Kalo begitu, kita berangkat sekarang saja, Mam.." kata Lek Masum.
"Kok sekarang? Kan ba'da Isya nanti, Lek.." jawabku.
"Sebaiknya sekarang saja biar nanti tidak kemalaman pulangnya."
"Baiklah.."kutatap wajah ibuku. Kucium tangannya. "Saya akan baik-baik saja, Bu.."
Ibuku hanya terdiam menatapku tanpa sepatah kata. Bahkan tetap tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya saat aku mengucapkan salam.
Dan sesaat kemudian aku telah berjalan beriringan bertiga dengan Lek Masum dan Lek Sapan. Sepanjang perjalanan aku mencoba menyusun kalimat jawaban seandainya juragan Arsa kembali membicarakan soal tanah.
"Kamu benar-benar ga mau jual tanahmu, Mam?" suara Lek Sapan memecah kebisuan setelah sekian lama kami berjalan dalam diam. Aku sempat kaget dan tidak siap dengan pertanyaannya.
"Ada apa, Lek?" tanyaku.
"Kamu bener-bener ga mau jual tanahmu?" ulang Lek Sapan.
Aku menggeleng. "Tidak, Lek. Saya sudah jelaskan berulang kali sama juragan Arsa. Karena itu tanah peninggalan almarhum bapak. Dan bapak dulu sudah berpesan untuk jangan pernah menjual tanah itu apapun alasannya.."

"Masalahnya, tinggal tanahmu saja yang belum dijual ke juragan Arsa. Semua warga kampung yang tanahnya mau dibangun tempat hiburan itu sudah setuju untuk menjual tanahnya. Bahkan juragan Arsa memberikan harga spesial untuk tanahmu itu.."
"Maaf, Lek.." aku menghentikan langkahku. "Tadi saya sudah bilang, jika ini adalah soal tanah saya, saya tidak akan memenuhi undangan juragan Arsa. Sebaiknya saya pulang saja.."
"Kamu keras kepala seperti bapakmu, Mam!"
Aku berbalik hendak meninggalkan mereka. Dan baru satu langkah aku ayunkan kakiku, tiba-tiba aku merasakan benda keras menghajar tengkukku. Mataku berkunang-kunang dan pandanganku mengabur. Aku masih sempat mengingat wajah ibuku sebelum akhirnya semua menjadi gelap.
.....

Aku terus memperhatikan kedua laki-laki itu. Mereka terus mencangkuli tanah. Keringat mereka bercampur dengan air gerimis. Dan saat kilat menyambar, aku melihat jasadku tergeletak ditanah yang becek disamping mereka.


cilacap, 20 november 2012. 








Rabu, 14 November 2012

AKU DAN LAKI LAKI TUA GILA

Setiap aku lewati jalan ini, dia pasti menoleh dan tersenyum padaku. Kadang kubalas sekilas. Tapi lebih sering aku abaikan. Apalagi ketika mulutnya penuh dengan makanan dan memperlihatkan giginya yang kuning dan kotor.
Seperti sore ini, laki-laki itu tengah berjongkok di pinggir timbunan sampah dekat kampungku. Mengais-ngais mencari sisa-sisa yang bisa dimakannya.
Aku teringat dengan bungkusan yang kubawa. Tadi sebelum pulang aku mampir ketempat seorang kerabat dan pulangnya dibawakan nasi gardus. "Bawa saja, masih utuh, kok. Lagian disini tidak ada yang memakan. Daripada mubazir," kata kerabatku waktu itu. Dan aku bukanlah tipe orang yang 'prewira', yang bisa pura-pura menolak padahal memang membutuhkannya. Apalagi pada kerabatku yang satu ini. Yang tahu persis keadaanku.
"Ini, Pak," kosodorkan tas plastik hitam berisi nasi gardus itu.
Sejenak dia memandangku lalu terkekeh. Dengan sigap dibukanya dan wajahnya langsung berubah dan seringainya semakin lebar. Begitu lebarnya sampai seluruh wajahnya nyaris berubah menjadi mulutnya. Aku bergidik. Tapi anehnya, aku justru terpengaruh dengan seringainya dan ikut menarik kedua sudut bibirku.
"Humm..." tiba-tiba tangannya menyodorkan nasi bungkus ditangannya.
"Makan saja, Pak.." balasku menolak. Dalam hati aku sempat mengutuk. Masa aku harus makan bareng orang gila dan ditempat seperti ini.
"Humm.." kembali dia menyodorkan bungkusan itu. Dan, Ya Tuhan, matanya itu. Belum pernah aku melihat mata seperti itu. Begitu tulus dan mampu menyedotku. Aku seperti terhipnotis. Dan tiba-tiba aku telah berjongkok disebelahnya.
Laki-laki itu kembali menyodorkan bungkusan nasi gerdusnya kearahku. Dan dengan isyarat tangannya dia memintaku untuk membagi dua.
Dengan tangan gemetar, aku membagi nasi beserta lauknya menjadi dua. Sengaja aku memilih bagian yang lebih sedikit karena aku tidak yakin mampu menghabiskannya meskipun seharian ini perutku belum terisi. Dan sebelum aku menyerahkannya, tiba-tiba tangan laki-laki tua itu telah menukarnya dan sekarang aku justru mendapat bagian yang lebih banyak.
Dengan lahap laki-laki itu mulai memakannya sambil sesekali menyeringai kearahku dan menyuruhku untuk ikut makan. Dan lagi-lagi, mata itu, Ya Tuhan... Dan sesaat kemudian akupun mulai lahap memakan nasi gardus bagianku.
Tubuhku tiba-tiba bergetar. Perasaanku berkecamuk. Seluruh syarafku menegang. Dan semua berkumpul dikedua kelopak mataku membentuk kristal bening yang mulai bergulir tanpa mampu aku bendung. Tak ada kata yang mampu aku ucapkan. Semua seperti terkunci oleh perasaan yang asing tapi begitu indah. Ini begitu nyata. Sangat nyata.
Segala beban seperti menguap. Lepas. Aku merasa begitu ringan. Aku tidak lagi peduli pada laki-laki tua gila disampingku. Tidak juga dengan tatapan orang-orang yang lewat yang memandangku dengan aneh.
"Dia sudah jadi gila..."
"Kasihan, sejak ditinggal anak dan istrinya dia jadi seperti itu..."
"Depresi..."
"Stress..."
"Padahal dia masih muda..."
Semua kata-kata yang terlontar terdengar begitu merdu. Aku tidak peduli. Tidak lagi peduli. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang saya tahu, inilah indahnya berbagi. Karena aku tidak membutuhkan alasan apapun untuk sedikit berbuat baik meski pada laki-laki tua gila yang suka menyeringai.
Dan sejak sat itu, akupun suka menyeringai sendiri.

Jumat, 26 Oktober 2012

BERANI SALAH

Yang paling enak dan gampang dilakukan saat kita menemui sebuah masalah adalah dengan melempar kesalahan pada orang lain. Kita sibuk mengorek-orek. Sibuk mencari alibi. Tak sedikitpun terbersit untuk berkaca dan sedikit introspeksi.
Kenapa? Karena kita takut.
Kita takut menerima kenyataan bahwa itu semua  karena kesalahan kita.
Kita takut jika kita mengakui kesalahan  orang lain akan menjauh dan menurunkan 'pamor' kita dimata mereka.
Takut jika ternyata orang lain lebih baik dari kita. Karena itu berarti kita tidak superior lagi.
Apa itu salah? Tidak. Itu manusiawi. Tapi bodoh.
Saat kita terlalu fokus pada kesalahan orang lain, kita sudah mengalami banyak kerugian. Kerugian yang utama adalah akhirnya kita tidak pernah belajar.

Jika kita tidak pernah merasa salah, lalu apalagi yang harus diperbaiki dari diri kita?
Ibarat orang sakit, bagaimana dokter bisa memberikan resep obat jika si pasien tidak pernah merasa sakit?
Lalu pada akhirnya kita baru menyadari saat semua sudah kronis. Parah.
'Bodoh' yang lain adalah pikiran kita akan terkuras energinya untuk berkelit. Dan bukan tidak mungkin pada akhirnya kita harus berbohong. Dan bohong itu sendiri mempunyai efek domino yang luar biasa. Karena sekali kita bohong, maka seterusnya kita akan berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
Saya respek pada orang-orang yang konsisten dengan kebohongannya. Berarti dia punya daya ingat dan imajinasi yang luar biasa untuk selalu mengingat bahwa ia pernah mengatakan sesuatu yang tidak terjadi, dan ia harus mengingatnya untuk selamanya. Karena sekali saja ia tergelincir, terbongkarlah semua kebohongannya.
Jadi bisa kebayang kan, betapa capenya jadi pembohong?

Ya, melimpahkan kesalahan pada orang lain adalah nikmat. Tapi itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kita hanya mengalihkan masalah atau menundanya untuk menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak. Ibarat yang gatel kepalanya tapi yang digaruk pantatnya.
Semua permasalahan datang satu paket. Masalah plus jalan keluarnya. Dan yang tau jalan keluarnya ya kita sendiri.

Akuilah jika itu memang kesalahan kita. Sepintas terasa berat. Karena itu berarti kita seolah meletakan harga diri di level yang paling bawah. Tapi sebenarnya, itu adalah cara yang paling mudah. Saat kita berani mengakui kesalahan, maka pikiran kita akan terbuka dan siap menerima perbaikan. Dan saat kita selalu menerima perbaikan berarti akan ada progres ke yang lebih baik. Kita telah belajar.
Tidak ada orang yang suka melakukan kesalahan. Tapi jika kita ingin melewati hidup dengan baik, maka tidak ada jaminan bagi kita untuk tidak melakukan kesalahan. Dan jika kita bisa belajar dengan tepat dari kesalahan, maka kita akan mendapatkan bahan bakar baru untuk maju kedepan.

Hidup ini hanya untuk orang-orang yang mau belajar.

Senin, 22 Oktober 2012

HIDUP ITU PENDEK

Ini adalah hidupmu. Lakukan apa yang kau cintai dan sering-seringlah melakukannya.
Jika kau tidak suka sesuatu, ubahlah. Jika kau tak suka pekerjaanmu, berhentilah. Dan jika kau mencari cinta sejatimu, berhentilah; mereka akan menunggumu ketika kau mulai melakukan hal-hal yang kau cintai.

Hidup itu sederhana. Berhentilah terlalu menganalisa sesuatu, semua emosi itu indah.

Ketika kau makan, hargai setiap gigitan terakhir.
Buka pikiran, tangan dan hatimu untuk hal-hal dan orang-orang baru, kita satu dalam perbedaan-perbedaan kita.
Tanyailah orang yang kau temui apa yang menjadi keinginan mereka, dan berbagi mimpi bersama mereka.

Seringlah bepergian, tersesat akan membantumu menemukan jati diri.
Beberapa peluang hanya datang sekali, rebutlah.

Hidup adalah tentang orang yang kau temui, dan hal-hal yang kau ciptakan bersama mereka. Jadi keluarlah, mulailah berkreasi.

Hidup itu pendek. Jalani mimpimu dan bersama-sama berbagi hasrat.

Tewrkadang kita lupa tujuan hidup kita apa. Terkadang terlalu terpaku pada norma-norma. "Pamali" dan sebagainya. Lakukan apa yang menurut mereka terbaik. Ayo, kita mulai dari sekarang. Kejar mimpi-mimpi kita.

Sabtu, 20 Oktober 2012

BERSETUBUH DENGAN KATA-KATA

 “Cerita fiksi itu cuma 6 kata.  Selebihnya imajinasi.” — (Ernest Hemingway)

"ATAS NAMA KESETIAAN - Ia menikahi kekasihnya dengan mas kawin sepasang Sendal Jepit."

Ada banyak teman yang bertanya tentang status-status saya di fesbuk. Ada yang bertanya langsung. Tapi paling banyak ya lewat inbox. Tak sedikit juga sih yang cuek. Yah, namanya juga fesbuk.
Dan ketika kujawab, mereka justru tambah tidak mengerti. Dan terus terang, secara teori pun saya kurang bisa menjelaskan apa itu fiksimini. Saya hanya menikmati dan senang bermain-main dengan kata-kata. Sampai akhirnya saya menemukan catatan di blog teman tentang fiksimini.
Semua berawal ketika saya mulai suka mainan twitter. Dibanding fesbuk, awalnya twitter terasa lebih 'ribet' dan bikin males. Karena twitter hanya menyediakan 140 karakter untuk tempat kita memuntahkan isi kepala. Tapi selanjutnya, saya justru jadi addict. Ada kepuasan tersendiri ketika hanya dengan 140 karakter tapi kita bisa membuat orang lain sudah cukup mengerti dengan pesan kita. Ibarat ngomong, ga perlu banyak kata tapi tembus ke jantung. Jleb. That's amazing, bro.
Sampai akhirnya saya mengenal apa yang kemudian disebut dengan fiksimini. Dan itu ternyata membuat saya maikin kecanduan.
Mengamati. Ide cerita. Merangkainya dengan kalimat seminim mungkin. Kurang lebih seperti itu.

Dan akhirnya saya menemukan diktum tentang fiksimini yang ditulis oleh Agus Noer

- Menceritakan seluas mungkin dunia, dengan seminim mungkin kata

- Ibarat dalam tinju, fiksimini serupa satu pukulan yang telak dan menohok

- Kisahnya ibarat lubang kunci, yang justru membuat kita bisa “mengintip” dunia secara berbeda

- Bila novel membangun dunia. Cerpen menata kepingan dunia. Fiksimini mengganggunya

- Fiksimini yang kuat ibarat granat yang meledak dalam kepala kita

- Ia bisa berupa kisah sederhana, diceritakan dengan sederhana, tetapi selalu terasa ada yang tidak  sederhana di dalamnya

- Alurnya seperti bayangan berkelebat, tetapi membuat kita terus teringat

- Serupa permata mungil yang membiaskan banyak cahaya, kita terus terpesona setiapkali membacanya.

- Seperti sebuah ciuman, fiksimini jangan terlalu sering diulang-ulang

- Bila puisi mengolah bahasa, fiksimini menyuling cerita, menyuling dunia.

- Ia tak semata membuat tawa. Karna ia adalah gema tawanya.

- Kau kira fiksimini ialah kolam kecil, tapi kau tak pernah mampu menduga kedalamanya.

- Di ujung kisahnya: kita seperti mendapati teka-teki abadi yang tak bertepi.

- Pelan-pelan kau menyadari, ia sebutir debu yang mampu meledakkan semesta.

- Lupakan semua diktum itu. Mulailah menulis fiksimini!

Ya, itulah sedikit tentang fiksimini. Mari kita bersetubuh dengan kata-kata. Dan selanjutnya nikmati sensasi orgasmenya.

Kamis, 18 Oktober 2012

KIRIMAN DARI MASA LALU

Aku menerima sebuah paket. Entah dari mana. Terbungkus rapi tanpa nama pengirimnya.
"Ini benar buat saya?" tanyaku pada sang kurir.
"Benar, Mas. Ini nama dan alamat panjenengan, kan?" ia menunjuk pada secarik kertas yang tertempel dipaket itu. Ya, itu memang nama dan alamatku. Tapi dari siapa?
Dan aku masih mengira-ngira siapa si pengirim. Bahkan sampai si pengantar paket itu berlalu.
Kuletakan paket itu diatas meja. Kupandangi. Penasaran tapi aku masih takut untuk membukanya. Siapa tau isinya adalah bom. Atau benda lain yang bisa menimbulkan masalah buatku dikemudian hari. Ya, siapa tau.
Kotak persegi seukuran lunch box. Beratnya sekitar setengah kiloan. "Ini benar-benar misteri," batinku sok detektif.
Aku kembali mengingat-ingat apakah aku pernah memesan suatu barang pada seseorang atau mungkin via online shop. Tapi pikiranku cuma berputar-putar dan tak berhasil menemukan nama atau wajah seseorang yang pas untuk dicurigai sebagai si pengirim gelap.
Aku menghempaskan tubuhku ke kasur sementara mataku terus melekat pada paket mesterius berbungkus kertas payung warna coklat itu. Helaan nafasku terasa tidak biasa.
Mungkin kamu akan mengatakan aku terlalu drama. Hanya karena paket kecil itu aku bisa segalau ini. Tinggal sobek bungkusnya dan buka. Akan terjawab semua rasa penasaranku. Dan urusan selesai.
Tapi tidak semudah itu buatku.
Karena ini adalah satu hal yang aneh bagiku setelah kejadian dua tahun yang lalu.
Hah? Dua tahun yang lalu? Ternyata sudah cukup lama.
Dan kemudian yang terjadi adalah potongan-potongan adegan yang berkelebat layaknya sebuah slide film. Acak tapi bisa membentuk cerita yang sangat jelas. Semua bermuara pada sebuah kehilangan terbesar dalam hidupku.
Tiba-tiba aku tersadar. Selama ini ternyata aku tak merasakan detak jantungku sendiri. Aku tersengal tapi terasa ringan.
Dalam batas kesadaranku, tanganku meraih paket mesterius itu. Laksana harimau mencabik-cabik tubuh mangsanya, kubuka bungkusnya.
Aku terhenyak. Kotak itu kosong. Hanya secarik kertas dengan tulisan singkat.
"Terima kasih telah meminjamkannya kepadaku. Kukembalikan ini. Aku telah mendapat pengganti jantungmu."
Sejak saat itu aku kembali bisa merasakan detak jantungku sendiri.

CINTA DAN SENDAL JEPIT

Cincin, burung merpati, hati yang bertaut, semua adalah simbol bagi pasangan yang sedang dimabok cinta. Lambang kesetiaan.
Tapi buat saya, tak ada yang lebih bisa mewakili dari sebuah kesetiaan selain sendal jepit. Ya, sendal jepit, pemirsa.
Di fungsi nyatanya, sendal jepit adalah sebuah kesederhanaan, kebebasan sekaligus eksistensi diri yang merdeka. Mewakili kaum pinggiran atau masyarakat kelas tiga.
Kamu akan dipandang slenge'an, urakan dan tidak sopan atau bahkan langsung diusir satpam saat menemui pejabat dikantornya dengan mengenakan sendal jepit. Semahal apapun harganya.
Padahal, jika dilihat dari fungsinya, apa sih yang membedakan antara sendal jepit dengan sepatu atau alas kaki lain? Semua toh sama-sama berfungsi menjadi alas dan pelindung kaki dari benda-benda yang tidak ingin kita injak secara langsung. Bahkan, kita justru lebih merasa nyaman saat memakai sendal jepit, bukan? Dan kadang, sendal jepit bisa punya fungsi yang lebih. Buat lempar kirik, misalnya. Tapi tetap saja dipandang sepele. Yah, itulah sendal jepit.
Jadi jika kamu merasa hidup kamu tetap disepelekan meskipun kamu sendiri merasa sudah banyak melakukan sesuatu yang bermanfaat, mungkin dikehidupan sebelumnya kamu adalah sebuah sendal jepit. Mungkin.
Tapi dari segala kesederhanaan dan ke-sepele-an sepasang sendal jepit, ada simbol kesetiaan yang luar biasa. Ya, kesetiaan kepada pasangan. Sepasang sendal jepit akan terasa nyaman kita pakai jika keduanya memang benar-benar pasangan aslinya. Pernah ngerasain pakai sendal jepit kanan semua atau kiri semua? Atau pakai cuma sebelah saja?
Saya pernah punya sepasang sendal jepit kesayangan. Kemana-mana selalu saya pakai. Karena waktu itu saya punya sendal ya cuma itu. Saking seringnya dipakai sampai warnanya kusam dan alasnya menipis persis papir. Bahkan sendal jepit itu sudah menjadi semacam ikon dan bagian dari hidup saya. Lebay ya? Tapi ya begitulah adanya.
Pernah beberapa kali bagian jepitnya lepas karena lubang pengaitnya sudah dol. Beberapa kali juga masih bisa dibenerin dan bisa dipakai lagi. Sampai akhirnya benar-benar putus tus dan tidak bisa dipakai lagi. Dan itu hanya terjadi pada sendal jepit yang bagian kiri saja. Sementara yang sebelah kanan masih baik-baik saja.
Awalnya saya berpikir untuk mencari pasangan sendal jepit saya yang kanan. Kebetulan ada teman yang punya sendal jepit dengan warna dan ukuran yang sama. Kebetulan lagi cuma bagian kiri saja. Kebetulan sekali, bukan?
Akhirnya saya dan teman saya sepakat untuk besanan, menjodohkan sendal kami masing-masing. Dan saya kembali punya sendal jepit satu pasang.
Tapi ternyata, perjodohan itu tidak berlansung lama karena saya merasa tidak nyaman sama sekali memakainya. Aneh saja, rasanya. Sampai akhirnya saya menyadari, bahwa sendal jepit saya yang kanan memang tak cocok dan tak akan pernah cocok dengan sendal jepit teman saya yang sebelah kiri. Meski mereknya sama, warnanya sama dan ukurannya juga sama.
Akhirnya saya tau bahwa sendal jepit hanya dibuat untuk pasangannya saja. Dan tak bisa digantikan atau menggantikan sendal jepit yang lain. Setia sekali. (oke, saatnya kita bilang: WOW..)
Begitu juga dengan cinta dan kesetiaan. Kita bisa ketemu dengan banyak orang. Berinteraksi atau bahkan berhubungan secara spesial. Tapi hanya untuk satu orang saja sebenarnya kita dipasangkan.
So, kalo kamu adalah penganut faham kesetiaan-isme, mestinya saat ijab qobul kamu berani berkata, "Saya terima nikahnya Fulan binti Fulan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sepasang sendal jepit. Tunai."


SURAT UNTUK SATRYA

Ini adalah sebuah perjalanan. Yang akan berhenti entah kapan dan dimana. Apa yang telah kita lakukan? Dan apa lagi? Entahlah. Karena kita hanya menjalani bukan pemilik.
Ini tak cukup untuk merekam semuanya. Tapi setidaknya ada yang berjejak meski samar. Dan kelak kau akan tau inilah prasasti untukmu. Anakku.