Pffuih!
Aku nyaris
tersedak saat mendengar perkataannya. “Oshit!” segera kuletakan cangkir berisi coklat hangat dan menyambar kertas tisu yang tergeletak diatas meja untuk membersihkan
cipratan coklat dibajuku.
Laki-laki
didepanku terkekeh. “Kenapa? Ada masalah?” tanyanya sambil menyalakan rokok.
Dan itu batang rokok ke enam-nya sejak kami duduk di pojok cafe ini, setengah
jam yang lalu. Dia memang perokok berat, aku tahu itu.
“Abang serius?”
tanyaku kemudian.
“Apa?”
“Ya yang Abang
katakan tadi.”
“Gue ga akan
menikah lagi? Iya. Gue serius. Sangat serius.”
“Terus pacar
Abang gimana?”
“Pacar yang
mana nih?”
Aku nyengir.
Iya juga sih. Pertanyaanku tentang pacar ke dia itu jadi berkesan ambigu.
Terlalu banyak perempuan yang
mengelilingi kehidupan lelaki didepanku ini. Jadi kalo mau ngobrolin pacar
dengan dia ya harus sebut nama. Minimal ciri-ciri khusus atau sesuatu yang
membedakan salah satu perempuannya dengan perempuan-perempuannya yang lain. Ah,
lelaki ini memang bangsat! Hahaha.
“Ya yang
sering Abang ceritain dulu.” Lanjutku. “Yang Abang bilang jatuh cinta beneran
sama dia. Eh.. siapa itu namanya?” aku coba mengingat.
“Riska?”
“Ya. Riska.”
Ingatanku langsung terbayang pada sosok perempuan cantik dengan pipi yang
selalu merona. “Terus gimana dengan Riska, Bang? Bukannya dulu Abang pernah
cerita kalo mau nikah sama dia?”
Abang tidak
langsung menjawab. Tiba-tiba dia terlihat gelisah dan menghisap rokoknya
dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Gue udah putus dengan Riska.”
suara Abang terdengar disela-sela hembusan rokoknya. Dan selintas tadi aku
melihat ada segaris mendung dimata Abang. Ya, benar-benar selintas. Tapi itu
cukup buatku untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan hubungannya
dengan statment Abang yang tidak akan pernah menikah lagi.
Aku ikut
menghela nafas. “Abang patah hati?”
Dia menatapku.
Lalu tersenyum. “Lu pernah ngeliat Abang patah hati?”
Aku
menggeleng. “Tapi mata Abang seperti mata orang yang sedang patah hati. Bahkan
waktu Abang cerai dengan Kak Yuni juga ga gini-gini amat deh,” Kulihat Abang
sudah mau menjawab tapi segera kusambar. “Jadi karena Abang patah hati terus
Abang memutuskan untuk tidak menikah?”
“Hahaha...
Rani.. Rani...” Dia mengucel-ucel rambutku. Ah, sebel. “Idih, apaan sih?
Kebiasaan deh!” kataku ketus sambil menjauhkan kepalaku dari tangan Abang.
Lelaki itu malah makin terkekeh. “Kalo pun gue putus sama Riska, itu ga cukup
untuk membuat gue patah hati. Apalagi sampai gue mutusin buat ga nikah.”
“Bohong!” kataku
cepat. “Jelas-jelas mata Abang bicara kalo Abang patah hati karena putus dari
Riska. Dan karena Abang patah hati, Abang emosional trus mutusin buat ga nikah
selamanya!”
Lelaki
dihadapanku terdiam. Dia mematikan rokoknya ke asbak dan segera menyalakan
batang rokok selanjutnya. Edan, sudah kayak cerobong asap aja tuh mulut. Lalu
dengan tenang dia berkata, “Rani, lu boleh bilang gue patah hati.. emosional
atau apalah, terserah. Tapi bukan karena itu gue mutusin buat ga nikah.”
“Tapi Abang
patah hati beneran, kan?” kejarku. Lelaki itu cuma tersenyum. “Cieee.. patah
hati niyee..” ledekku. “Makan-makan, dong..”
“Hamatamu!”
Abang tergelak. “Ada gitu orang patah hati dimintain makan-makan?”
“Tuh kan.
Berarti bener, kan? Abang patah hati, kan? Yeeee...”
“Kamu stres
ya, Ran?”
“Hahaha..”
“Huss! Jangan
keras-keras! Ini ditempat umum!”
Aku tak
perduli. Terus saja ketawa. Sumpah, ini lucu. “Hahahaha...hbbbb..” Tiba-tiba
tangan Abang yang kekar membungkam mulutku. Dan... “AAWWW!!” beberapa detik
kemudian dia menjerit keras. Sukurin, telapak tangannya aku gigit! Hihihi.
Wajah lelaki
itu merengut dan menatapku tajam pura-pura marah. Iya, aku tau itu cuma
pura-pura. Aku nyengir. Oke, kembali serius.
“Abang pasti
sangat mencintai Riska.” kataku. “Kenapa putus sih, Bang?”
“Ya, karena udah
ngga nyambung..” jawabnya ngehe.
“Idih. Serius
nih. Keliatannya Abang masih cinta. Kenapa ga balikan aja?”
“Ga bisa.”
“Kenapa?”
“Dia sudah dengan laki-laki lain.
Dan bahagia...” kali ini suara Abang terdengar lirih dan bergetar. Aku jadi
kasihan. Abang pasti sangat terpukul. Dan hanya perempuan yang luar biasa yang
mampu membuat Abang jadi begini. Ah, aku jadi penasaran dengan Riska. Aku tidak
mengenal Riska. Hanya dengar cerita tentangnya dari Abang. Pernah sekali Abang
nunjukin fotonya dan menurutku, Riska cantik.
“Ya, gue sangat mencintainya. Gue
belum pernah jatuh cinta seperti ini. Dan mungkin gue emang patah hati. Tapi
bukan karena itu gue mutusin untuk tidah menikah.”
“Lalu apa?”
“Kalo gue mutusin untuk tidak
menikah itu karena gue ingin menghayati sepenuhnya takdir gue..”
“Takdir, Bang? Takdir apaan?”
Diam sejenak. Lalu Abang berkata.
“Lu tau kan selama ini perjalanan hidup gue? Orang-orang yang gue cintai semua
ga ada yang bisa gue miliki. Diawali oleh orang tua kita yang pisah. Lu ikut
Ayah dan Ibu ikut suami barunya dan sekarang entah dimana. Terus gue terpaksa
pergi dari rumah terpisah dengan kalian semua. Oke, kita masih bisa ketemu
seperti ini. Tapi apa bisa kita kumpul bareng lagi seperti waktu orang tua kita
belum bercerai?”
“Terus gue nikah. Dan lu inget,
berapa umur pernikahan gue? Dua tahun, Ran. Cuma dua tahun!” Abang mengacungkan
jarinya seperti lagi kampanye Keluarga Berencana.
“Dan yang lebih bangsat, bahkan
gue ga bisa bareng sama anak gue!” suara Abang makin bergetar. “Ada yang lebih
menyakitkan dari kehilangan anak? Ga ada! Ga ada, Ran!” tiba-tiba tenggorokanku
terasa kering. Aku habiskan sekaligus coklat hangat yang tinggal seperempat
gelas.
“Akhirnya gue ketemu Riska. Gue
jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Tapi akhirnya? Tetep aja akhirnya gue harus sendiri
dan kesepian. Ini takdir gue, Ran..”
“Tapi, Bang.. bukannya setiap
manusia diciptakan berpasang-pasangan? Itu janji Tuhan kan, Bang?”
“Iya. Dan pasangan gue adalah
kesepian,”
“Abang kesepian?” Aku agak heran
mendengar ini. Setahuku Abang selalu dikelilingi oleh perempuan-perempuan.
Teman cowoknya juga banyak. Dia ga pernah keliatan sedih. Dimanapun ada Abang,
suasana pasti rame dan seger. Abang pinter mencairkan suasana. Bahkan temen-temen
kuliahku juga banyak yang naksir Abang. Padahal usia Abang udah ga bisa dibilang
muda lho. Meski wajah dan penampilannya emang ga keliatan kalo dia nyaris kepala
empat.
“Iya. Gue kesepian. Sangat
kesepian.” Jawab Abang. “Tapi inilah pasangan gue. Dan gue musti menikmatinya.
Gue imani takdir gue.”
Aku mendengarkan cerita Abang
dengan perasaan campur aduk. Baru kali ini aku merasakan Abang benar-benar
tertohok hatinya. Ini belum pernah aku
lihat dari Abang selama ini. Dia pasti sangat mencintai Riska.
“Abang cinta banget sama Riska
ya?” aku memajukan kursi dan menggenggam tangan laki-laki dihadapanku. Beberapa
pasang mata melirik ke arah kami. Mereka mungkin berfikir kami adalah sepasang
kekasih. Ah, persetan mereka. Dan sejenak kemudian kulihat kepala Abang
mengangguk pelan dengan senyum tipis dibibirnya. Matanya berbinar.
“Sangat.” Jawabnya. “Dan dia
berhak untuk bahagia. Dan gue harus bisa terima jika bahagianya itu bukan gue.”
“Abang yakin Riska bahagia?”
“Setidaknya dia sudah memilih.”
“Abang ikhlas?”
“Ikhlas itu bukan untuk
diucapkan. Menghayati kesendirian adalah sebenar-benarnya imanku atas takdir
mencintainya.”
Ah, Abang. Laki-laki ini memang
unik. Banyak yang bilang ia menyebalkan. Termasuk aku juga kadang dibuatnya
sebel. Sering malah. Tapi dibalik itu dia laki-laki yang lembut dan baik. Dan
pesonanya itu... hahaha, pantas saja teman-teman kuliahku banyak yang kepincut
sama dia.
Aku beranjak dari tempat dudukku.
Kepeluk dia. Dan senja ini aku menghabiskan banyak waktu dengannya, Abangku. (@botolorson /purwokerto, 26 April 2014)

Good (y)
BalasHapusJatuh cinta dan patah hati ternyata punya efek samping yang mirip:
BalasHapus~berat mengaku mesti sudah ketauan
~logika yg jungkir balik
Susah untuk percaya pada orang yg sedang jatuh cinta maupun patah hati.
Menarik!
BalasHapusTapi... Rani ini sebenarnya order minum apa? Kopi ato coklat panas? Mungkin dua-duanya ya? (order ya aneh)
Soalnya kalo jadi Screenplay pasti diprotes orang art... hehehe
Di tunggu karya selanjutnya
Kedainya jualan kopi dan coklat.. *ngeles*
BalasHapusHehehe... terima kasih detilnya, Mas.. :D
Sama-sama :-)
Hapus