Sabtu, 26 April 2014

ABANG

Pffuih!
Aku nyaris tersedak saat mendengar perkataannya. “Oshit!” segera kuletakan cangkir berisi coklat hangat dan menyambar kertas tisu yang tergeletak diatas meja untuk membersihkan cipratan coklat dibajuku.
Laki-laki didepanku terkekeh. “Kenapa? Ada masalah?” tanyanya sambil menyalakan rokok. Dan itu batang rokok ke enam-nya sejak kami duduk di pojok cafe ini, setengah jam yang lalu. Dia memang perokok berat, aku tahu itu. 
“Abang serius?” tanyaku kemudian.
“Apa?”
“Ya yang Abang katakan tadi.”
“Gue ga akan menikah lagi? Iya. Gue serius. Sangat serius.”
“Terus pacar Abang gimana?”
“Pacar yang mana nih?”
Aku nyengir. Iya juga sih. Pertanyaanku tentang pacar ke dia itu jadi berkesan ambigu. Terlalu banyak  perempuan yang mengelilingi kehidupan lelaki didepanku ini. Jadi kalo mau ngobrolin pacar dengan dia ya harus sebut nama. Minimal ciri-ciri khusus atau sesuatu yang membedakan salah satu perempuannya dengan perempuan-perempuannya yang lain. Ah, lelaki ini memang bangsat! Hahaha.
“Ya yang sering Abang ceritain dulu.” Lanjutku. “Yang Abang bilang jatuh cinta beneran sama dia. Eh.. siapa itu namanya?” aku coba mengingat.
“Riska?”
“Ya. Riska.” Ingatanku langsung terbayang pada sosok perempuan cantik dengan pipi yang selalu merona. “Terus gimana dengan Riska, Bang? Bukannya dulu Abang pernah cerita kalo mau nikah sama dia?”
Abang tidak langsung menjawab. Tiba-tiba dia terlihat gelisah dan menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Gue udah putus dengan Riska.” suara Abang terdengar disela-sela hembusan rokoknya. Dan selintas tadi aku melihat ada segaris mendung dimata Abang. Ya, benar-benar selintas. Tapi itu cukup buatku untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan hubungannya dengan statment Abang yang tidak akan pernah menikah lagi.
Aku ikut menghela nafas. “Abang patah hati?”
Dia menatapku. Lalu tersenyum. “Lu pernah ngeliat Abang patah hati?”
Aku menggeleng. “Tapi mata Abang seperti mata orang yang sedang patah hati. Bahkan waktu Abang cerai dengan Kak Yuni juga ga gini-gini amat deh,” Kulihat Abang sudah mau menjawab tapi segera kusambar. “Jadi karena Abang patah hati terus Abang memutuskan untuk tidak menikah?”
“Hahaha... Rani.. Rani...” Dia mengucel-ucel rambutku. Ah, sebel. “Idih, apaan sih? Kebiasaan deh!” kataku ketus sambil menjauhkan kepalaku dari tangan Abang. Lelaki itu malah makin terkekeh. “Kalo pun gue putus sama Riska, itu ga cukup untuk membuat gue patah hati. Apalagi sampai gue mutusin buat ga nikah.”
“Bohong!” kataku cepat. “Jelas-jelas mata Abang bicara kalo Abang patah hati karena putus dari Riska. Dan karena Abang patah hati, Abang emosional trus mutusin buat ga nikah selamanya!”
Lelaki dihadapanku terdiam. Dia mematikan rokoknya ke asbak dan segera menyalakan batang rokok selanjutnya. Edan, sudah kayak cerobong asap aja tuh mulut. Lalu dengan tenang dia berkata, “Rani, lu boleh bilang gue patah hati.. emosional atau apalah, terserah. Tapi bukan karena itu gue mutusin buat ga nikah.”
“Tapi Abang patah hati beneran, kan?” kejarku. Lelaki itu cuma tersenyum. “Cieee.. patah hati niyee..” ledekku. “Makan-makan, dong..”
“Hamatamu!” Abang tergelak. “Ada gitu orang patah hati dimintain makan-makan?”
“Tuh kan. Berarti bener, kan? Abang patah hati, kan? Yeeee...”
“Kamu stres ya, Ran?”
“Hahaha..”
“Huss! Jangan keras-keras! Ini ditempat umum!”
Aku tak perduli. Terus saja ketawa. Sumpah, ini lucu. “Hahahaha...hbbbb..” Tiba-tiba tangan Abang yang kekar membungkam mulutku. Dan... “AAWWW!!” beberapa detik kemudian dia menjerit keras. Sukurin, telapak tangannya aku gigit! Hihihi.
Wajah lelaki itu merengut dan menatapku tajam pura-pura marah. Iya, aku tau itu cuma pura-pura. Aku nyengir. Oke, kembali serius.
“Abang pasti sangat mencintai Riska.” kataku. “Kenapa putus sih, Bang?”
“Ya, karena udah ngga nyambung..” jawabnya ngehe.
“Idih. Serius nih. Keliatannya Abang masih cinta. Kenapa ga balikan aja?”
“Ga bisa.”
“Kenapa?”
“Dia sudah dengan laki-laki lain. Dan bahagia...” kali ini suara Abang terdengar lirih dan bergetar. Aku jadi kasihan. Abang pasti sangat terpukul. Dan hanya perempuan yang luar biasa yang mampu membuat Abang jadi begini. Ah, aku jadi penasaran dengan Riska. Aku tidak mengenal Riska. Hanya dengar cerita tentangnya dari Abang. Pernah sekali Abang nunjukin fotonya dan menurutku, Riska cantik.
“Ya, gue sangat mencintainya. Gue belum pernah jatuh cinta seperti ini. Dan mungkin gue emang patah hati. Tapi bukan karena itu gue mutusin untuk tidah menikah.”
“Lalu apa?”
“Kalo gue mutusin untuk tidak menikah itu karena gue ingin menghayati sepenuhnya takdir gue..”
“Takdir, Bang? Takdir apaan?”
Diam sejenak. Lalu Abang berkata. “Lu tau kan selama ini perjalanan hidup gue? Orang-orang yang gue cintai semua ga ada yang bisa gue miliki. Diawali oleh orang tua kita yang pisah. Lu ikut Ayah dan Ibu ikut suami barunya dan sekarang entah dimana. Terus gue terpaksa pergi dari rumah terpisah dengan kalian semua. Oke, kita masih bisa ketemu seperti ini. Tapi apa bisa kita kumpul bareng lagi seperti waktu orang tua kita belum bercerai?”
“Terus gue nikah. Dan lu inget, berapa umur pernikahan gue? Dua tahun, Ran. Cuma dua tahun!” Abang mengacungkan jarinya seperti lagi kampanye Keluarga Berencana.
“Dan yang lebih bangsat, bahkan gue ga bisa bareng sama anak gue!” suara Abang makin bergetar. “Ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan anak? Ga ada! Ga ada, Ran!” tiba-tiba tenggorokanku terasa kering. Aku habiskan sekaligus coklat hangat yang tinggal seperempat gelas.
“Akhirnya gue ketemu Riska. Gue jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Tapi akhirnya? Tetep aja akhirnya gue harus sendiri dan kesepian. Ini takdir gue, Ran..”
“Tapi, Bang.. bukannya setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan? Itu janji Tuhan kan, Bang?”
“Iya. Dan pasangan gue adalah kesepian,”
“Abang kesepian?” Aku agak heran mendengar ini. Setahuku Abang selalu dikelilingi oleh perempuan-perempuan. Teman cowoknya juga banyak. Dia ga pernah keliatan sedih. Dimanapun ada Abang, suasana pasti rame dan seger. Abang pinter mencairkan suasana. Bahkan temen-temen kuliahku juga banyak yang naksir Abang. Padahal usia Abang udah ga bisa dibilang muda lho. Meski wajah dan penampilannya emang ga keliatan kalo dia nyaris kepala empat.
“Iya. Gue kesepian. Sangat kesepian.” Jawab Abang. “Tapi inilah pasangan gue. Dan gue musti menikmatinya. Gue imani takdir gue.”
Aku mendengarkan cerita Abang dengan perasaan campur aduk. Baru kali ini aku merasakan Abang benar-benar tertohok hatinya.  Ini belum pernah aku lihat dari Abang selama ini. Dia pasti sangat mencintai Riska.
“Abang cinta banget sama Riska ya?” aku memajukan kursi dan menggenggam tangan laki-laki dihadapanku. Beberapa pasang mata melirik ke arah kami. Mereka mungkin berfikir kami adalah sepasang kekasih. Ah, persetan mereka. Dan sejenak kemudian kulihat kepala Abang mengangguk pelan dengan senyum tipis dibibirnya. Matanya berbinar.
“Sangat.” Jawabnya. “Dan dia berhak untuk bahagia. Dan gue harus bisa terima jika bahagianya itu bukan gue.”
“Abang yakin Riska bahagia?”
“Setidaknya dia sudah memilih.”
“Abang ikhlas?”
“Ikhlas itu bukan untuk diucapkan. Menghayati kesendirian adalah sebenar-benarnya imanku atas takdir mencintainya.”
Ah, Abang. Laki-laki ini memang unik. Banyak yang bilang ia menyebalkan. Termasuk aku juga kadang dibuatnya sebel. Sering malah. Tapi dibalik itu dia laki-laki yang lembut dan baik. Dan pesonanya itu... hahaha, pantas saja teman-teman kuliahku banyak yang kepincut sama dia.
Aku beranjak dari tempat dudukku. Kepeluk dia. Dan senja ini aku menghabiskan banyak waktu dengannya, Abangku. (@botolorson /purwokerto, 26 April 2014)







5 komentar:

  1. Jatuh cinta dan patah hati ternyata punya efek samping yang mirip:
    ~berat mengaku mesti sudah ketauan
    ~logika yg jungkir balik
    Susah untuk percaya pada orang yg sedang jatuh cinta maupun patah hati.

    BalasHapus
  2. Menarik!
    Tapi... Rani ini sebenarnya order minum apa? Kopi ato coklat panas? Mungkin dua-duanya ya? (order ya aneh)
    Soalnya kalo jadi Screenplay pasti diprotes orang art... hehehe

    Di tunggu karya selanjutnya

    BalasHapus
  3. Kedainya jualan kopi dan coklat.. *ngeles*
    Hehehe... terima kasih detilnya, Mas.. :D

    BalasHapus