Sesampainya aku dipinggir tebing, aku sempat melirik kebawah. Mencoba tetap menjaga keseimbangan agar tak terpeleset. Kugenggam tanganmu erat. Senyummu menguatkanku dan seolah berkata, "Aku percaya kamu bisa karena kamu memang bisa." Namun tak urung tubuhku bergetar. Bukan, bukan karena aku takut ketinggian. Tapi karena tiba-tiba mataku kabur saat tak sengaja aku melirik kebawah. Dan bayangan itu kembali berkelana dibenakku. Aku melihat diriku yang terpelanting, menghantam batu terjal dan mengkoyak-koyakku hingga ketulang sumsum. Sakit. Sakit sekali.
Tapi aku tidak mati. Aku masih merasakan tubuhku utuh. Hanya tulang rusukku yang patah dan darah ada dimana-mana. Aku mencoba berdiri dengan penuh luka. Dan semua luka itu berkumpul dalam satu rasa. Seperti ribuan jarum yang bergerak menyelusup dalam setiap mili pori-pori. Aku tersengal muntah darah. Baunya sangat busuk dan kembali membuatku mual. Lalu aku muntah lagi. Lagi dan lagi.
Tapi aku masih hidup. Aku masih bisa merasakan kehilangan tulang rusukku.
Dalam kesakitan aku mengutuk pada tebing yang membuatku terpelanting. Pada jembatan rapuh yang harus kulalui. Pada tangan-tangan yang mendorongku.
Dan aku mengutuk Tuhan. Mengapa aku tidak mati saja?
Lalu apa gunanya aku jika sudah begini? Dengan luka parah dan tulang rusuk yang hilang. Didasar tebing yang, ah aku baru menyadarinya, gelap sekali. Tanpa kusadari, lambat laun aku mulai berubah menjadi batu dasar tebing yang gelap dan keras.
"Hei, kamu sudah membuatku cukup lama menunggu," suaramu menyadarkanku. Kutatap wajahmu, kau tersenyum manis. Senyum yang telah menyelamatkanku meski separuh tubuhku adalah batu. Dan dengan kesabaran seorang bidadari kau telah memahatnya, membuatku kembali menyerupai manusia. Lalu nafasmu kau hembuskan dijantungku yang kembali berdetak perlahan.
"Masih tetap mau disini?" tanyamu. Aku hanya diam dan membiarkan aku tenggelam dalam teduh matamu. "Disini bersama masa lalumu. Atau kembali kau lewati tebing itu bersamaku?"
Aku masih terdiam. Aku memang tak ingin berkata-kata. Karena mungkin kata-kata sudah tak lebih penting sekarang ini. Kuraih tanganmu. Kugenggam erat. Lalu kuabaikan semua ketakutanku pada tebing terjal yang pernah membuatku jatuh dan membuatku kehilangan tulang rusukku. Karena kini aku telah kembali menemukan tulang rusukku. Kamu.
Huaaaa mas jojo udah gak jomblo, tulang rusuknya udah ketemu x)))
BalasHapuspaan c nin..
Hapus