Kamis, 18 Oktober 2012

KIRIMAN DARI MASA LALU

Aku menerima sebuah paket. Entah dari mana. Terbungkus rapi tanpa nama pengirimnya.
"Ini benar buat saya?" tanyaku pada sang kurir.
"Benar, Mas. Ini nama dan alamat panjenengan, kan?" ia menunjuk pada secarik kertas yang tertempel dipaket itu. Ya, itu memang nama dan alamatku. Tapi dari siapa?
Dan aku masih mengira-ngira siapa si pengirim. Bahkan sampai si pengantar paket itu berlalu.
Kuletakan paket itu diatas meja. Kupandangi. Penasaran tapi aku masih takut untuk membukanya. Siapa tau isinya adalah bom. Atau benda lain yang bisa menimbulkan masalah buatku dikemudian hari. Ya, siapa tau.
Kotak persegi seukuran lunch box. Beratnya sekitar setengah kiloan. "Ini benar-benar misteri," batinku sok detektif.
Aku kembali mengingat-ingat apakah aku pernah memesan suatu barang pada seseorang atau mungkin via online shop. Tapi pikiranku cuma berputar-putar dan tak berhasil menemukan nama atau wajah seseorang yang pas untuk dicurigai sebagai si pengirim gelap.
Aku menghempaskan tubuhku ke kasur sementara mataku terus melekat pada paket mesterius berbungkus kertas payung warna coklat itu. Helaan nafasku terasa tidak biasa.
Mungkin kamu akan mengatakan aku terlalu drama. Hanya karena paket kecil itu aku bisa segalau ini. Tinggal sobek bungkusnya dan buka. Akan terjawab semua rasa penasaranku. Dan urusan selesai.
Tapi tidak semudah itu buatku.
Karena ini adalah satu hal yang aneh bagiku setelah kejadian dua tahun yang lalu.
Hah? Dua tahun yang lalu? Ternyata sudah cukup lama.
Dan kemudian yang terjadi adalah potongan-potongan adegan yang berkelebat layaknya sebuah slide film. Acak tapi bisa membentuk cerita yang sangat jelas. Semua bermuara pada sebuah kehilangan terbesar dalam hidupku.
Tiba-tiba aku tersadar. Selama ini ternyata aku tak merasakan detak jantungku sendiri. Aku tersengal tapi terasa ringan.
Dalam batas kesadaranku, tanganku meraih paket mesterius itu. Laksana harimau mencabik-cabik tubuh mangsanya, kubuka bungkusnya.
Aku terhenyak. Kotak itu kosong. Hanya secarik kertas dengan tulisan singkat.
"Terima kasih telah meminjamkannya kepadaku. Kukembalikan ini. Aku telah mendapat pengganti jantungmu."
Sejak saat itu aku kembali bisa merasakan detak jantungku sendiri.

4 komentar: