Sabtu, 20 Oktober 2012

BERSETUBUH DENGAN KATA-KATA

 “Cerita fiksi itu cuma 6 kata.  Selebihnya imajinasi.” — (Ernest Hemingway)

"ATAS NAMA KESETIAAN - Ia menikahi kekasihnya dengan mas kawin sepasang Sendal Jepit."

Ada banyak teman yang bertanya tentang status-status saya di fesbuk. Ada yang bertanya langsung. Tapi paling banyak ya lewat inbox. Tak sedikit juga sih yang cuek. Yah, namanya juga fesbuk.
Dan ketika kujawab, mereka justru tambah tidak mengerti. Dan terus terang, secara teori pun saya kurang bisa menjelaskan apa itu fiksimini. Saya hanya menikmati dan senang bermain-main dengan kata-kata. Sampai akhirnya saya menemukan catatan di blog teman tentang fiksimini.
Semua berawal ketika saya mulai suka mainan twitter. Dibanding fesbuk, awalnya twitter terasa lebih 'ribet' dan bikin males. Karena twitter hanya menyediakan 140 karakter untuk tempat kita memuntahkan isi kepala. Tapi selanjutnya, saya justru jadi addict. Ada kepuasan tersendiri ketika hanya dengan 140 karakter tapi kita bisa membuat orang lain sudah cukup mengerti dengan pesan kita. Ibarat ngomong, ga perlu banyak kata tapi tembus ke jantung. Jleb. That's amazing, bro.
Sampai akhirnya saya mengenal apa yang kemudian disebut dengan fiksimini. Dan itu ternyata membuat saya maikin kecanduan.
Mengamati. Ide cerita. Merangkainya dengan kalimat seminim mungkin. Kurang lebih seperti itu.

Dan akhirnya saya menemukan diktum tentang fiksimini yang ditulis oleh Agus Noer

- Menceritakan seluas mungkin dunia, dengan seminim mungkin kata

- Ibarat dalam tinju, fiksimini serupa satu pukulan yang telak dan menohok

- Kisahnya ibarat lubang kunci, yang justru membuat kita bisa “mengintip” dunia secara berbeda

- Bila novel membangun dunia. Cerpen menata kepingan dunia. Fiksimini mengganggunya

- Fiksimini yang kuat ibarat granat yang meledak dalam kepala kita

- Ia bisa berupa kisah sederhana, diceritakan dengan sederhana, tetapi selalu terasa ada yang tidak  sederhana di dalamnya

- Alurnya seperti bayangan berkelebat, tetapi membuat kita terus teringat

- Serupa permata mungil yang membiaskan banyak cahaya, kita terus terpesona setiapkali membacanya.

- Seperti sebuah ciuman, fiksimini jangan terlalu sering diulang-ulang

- Bila puisi mengolah bahasa, fiksimini menyuling cerita, menyuling dunia.

- Ia tak semata membuat tawa. Karna ia adalah gema tawanya.

- Kau kira fiksimini ialah kolam kecil, tapi kau tak pernah mampu menduga kedalamanya.

- Di ujung kisahnya: kita seperti mendapati teka-teki abadi yang tak bertepi.

- Pelan-pelan kau menyadari, ia sebutir debu yang mampu meledakkan semesta.

- Lupakan semua diktum itu. Mulailah menulis fiksimini!

Ya, itulah sedikit tentang fiksimini. Mari kita bersetubuh dengan kata-kata. Dan selanjutnya nikmati sensasi orgasmenya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar