Kamis, 18 Oktober 2012

CINTA DAN SENDAL JEPIT

Cincin, burung merpati, hati yang bertaut, semua adalah simbol bagi pasangan yang sedang dimabok cinta. Lambang kesetiaan.
Tapi buat saya, tak ada yang lebih bisa mewakili dari sebuah kesetiaan selain sendal jepit. Ya, sendal jepit, pemirsa.
Di fungsi nyatanya, sendal jepit adalah sebuah kesederhanaan, kebebasan sekaligus eksistensi diri yang merdeka. Mewakili kaum pinggiran atau masyarakat kelas tiga.
Kamu akan dipandang slenge'an, urakan dan tidak sopan atau bahkan langsung diusir satpam saat menemui pejabat dikantornya dengan mengenakan sendal jepit. Semahal apapun harganya.
Padahal, jika dilihat dari fungsinya, apa sih yang membedakan antara sendal jepit dengan sepatu atau alas kaki lain? Semua toh sama-sama berfungsi menjadi alas dan pelindung kaki dari benda-benda yang tidak ingin kita injak secara langsung. Bahkan, kita justru lebih merasa nyaman saat memakai sendal jepit, bukan? Dan kadang, sendal jepit bisa punya fungsi yang lebih. Buat lempar kirik, misalnya. Tapi tetap saja dipandang sepele. Yah, itulah sendal jepit.
Jadi jika kamu merasa hidup kamu tetap disepelekan meskipun kamu sendiri merasa sudah banyak melakukan sesuatu yang bermanfaat, mungkin dikehidupan sebelumnya kamu adalah sebuah sendal jepit. Mungkin.
Tapi dari segala kesederhanaan dan ke-sepele-an sepasang sendal jepit, ada simbol kesetiaan yang luar biasa. Ya, kesetiaan kepada pasangan. Sepasang sendal jepit akan terasa nyaman kita pakai jika keduanya memang benar-benar pasangan aslinya. Pernah ngerasain pakai sendal jepit kanan semua atau kiri semua? Atau pakai cuma sebelah saja?
Saya pernah punya sepasang sendal jepit kesayangan. Kemana-mana selalu saya pakai. Karena waktu itu saya punya sendal ya cuma itu. Saking seringnya dipakai sampai warnanya kusam dan alasnya menipis persis papir. Bahkan sendal jepit itu sudah menjadi semacam ikon dan bagian dari hidup saya. Lebay ya? Tapi ya begitulah adanya.
Pernah beberapa kali bagian jepitnya lepas karena lubang pengaitnya sudah dol. Beberapa kali juga masih bisa dibenerin dan bisa dipakai lagi. Sampai akhirnya benar-benar putus tus dan tidak bisa dipakai lagi. Dan itu hanya terjadi pada sendal jepit yang bagian kiri saja. Sementara yang sebelah kanan masih baik-baik saja.
Awalnya saya berpikir untuk mencari pasangan sendal jepit saya yang kanan. Kebetulan ada teman yang punya sendal jepit dengan warna dan ukuran yang sama. Kebetulan lagi cuma bagian kiri saja. Kebetulan sekali, bukan?
Akhirnya saya dan teman saya sepakat untuk besanan, menjodohkan sendal kami masing-masing. Dan saya kembali punya sendal jepit satu pasang.
Tapi ternyata, perjodohan itu tidak berlansung lama karena saya merasa tidak nyaman sama sekali memakainya. Aneh saja, rasanya. Sampai akhirnya saya menyadari, bahwa sendal jepit saya yang kanan memang tak cocok dan tak akan pernah cocok dengan sendal jepit teman saya yang sebelah kiri. Meski mereknya sama, warnanya sama dan ukurannya juga sama.
Akhirnya saya tau bahwa sendal jepit hanya dibuat untuk pasangannya saja. Dan tak bisa digantikan atau menggantikan sendal jepit yang lain. Setia sekali. (oke, saatnya kita bilang: WOW..)
Begitu juga dengan cinta dan kesetiaan. Kita bisa ketemu dengan banyak orang. Berinteraksi atau bahkan berhubungan secara spesial. Tapi hanya untuk satu orang saja sebenarnya kita dipasangkan.
So, kalo kamu adalah penganut faham kesetiaan-isme, mestinya saat ijab qobul kamu berani berkata, "Saya terima nikahnya Fulan binti Fulan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sepasang sendal jepit. Tunai."


4 komentar:

  1. wow...


    kampret capcayne di ilangi ndol......arep komen angel nemen

    BalasHapus
  2. Dan Hahahahahahah.... Asyik... Saya ingat temen saya nanya, kenapa sendal dipake di kaki? Karena topi dipake di kepala... Tak pernah ada sendal kemudian di pake di kepala... Sendal jepit, I love you... :D

    BalasHapus